Pinhome Sebut Rumah Harga Rp 300 Juta Hingga Rp 1 Miliar Masih Jadi Incaran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah kondisi pasar properti yang masih menantang karena berbagai pemicu, PT Properti Solusi Manajemen (Pinhome) mengungkapkan bahwa rumah dengan rentang harga Rp 300 juta hingga Rp 1 miliar masih menjadi incaran masyarakat.
Menurut CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata, kisaran harga tersebut masih sesuai dengan kemampuan masyarakat Indonesia.
“Harga properti yang paling banyak bergerak tertinggi itu di kisaran harga Rp 300 juta sampai Rp 1 miliar. Proporsinya paling tinggi itu hampir 50% properti yang dibeli,” ujarnya, dalam talkshow bertajuk Tren Properti: Hunian Sebagai Simbol Peningkatan Kualitas Hidup, yang digelar Pinhome, di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga
Pinhome Catat Tren “Tenor Stretching” KPR, Plafon Kredit Turun ke Bawah Rp 600 Juta
Kondisi tersebut, lanjut Dara, sejalan dengan tingkat produk domestik bruto (PDB) masyarakat per kapita di Indonesia yang masih berkisar US$ 5.000 per tahun, dengan mayoritas berpendapatan Rp 7 juta hingga Rp 8 juta per bulan.
Ia menjelaskan, kemampuan mencicil rumah di masyarakat juga bergam, ada yang pada kisaran Rp 4 juta - Rp 5 juta per bulan, atau hingga Rp 8 juta untuk pasangan dengan pendapatan gabungan.
Dara menilai, tantangan yang dihadapi industri properti saat ini berkaitan dengan pelemahan daya beli masyarakat di segmen menengah yang pada akhirnya menurunkan permintaan pasar terkait properti. Secara umum, pelemahan itu disebabkan naiknya harga kebutuhan pokok, tarif listrik, dan harga bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga
Properti Tetap Menarik di Tengah Kondisi Ketidakpastian, Ini Kata Pinhome dan Bank Muamalat
“Terjadi perlambatan demand dari segmen ekonomi menengah akibat kenaikan harga, kenaikan harga kebutuhan pokok, kemudian juga termasuk harga utilitas seperti listrik dan BBM. Orang mencari tiap belum membeli saat ini,” katanya.
Lebih lanjut, Dara memperkirakan kuartal III 2026 masih menjadi periode yang menantang untuk industri properti. Tingginya tingkat suku bunga dan perbedaan ekspektasi harga antara penjual membuat pembeli semakin selektif karena mempertimbangkan besarnya cicilan ketika skema bunga floating mulai berlaku.
