Pinhome Sebut Pasar Properti di Semester I 2026 Beradaptasi, Bukan Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah tekanan ekonomi seperti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kenaikan biaya hidup, pasar properti residensial Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang cukup solid pada paruh pertama 2026. Meski minat beli terlihat melambat, tren kepemilikan rumah kini bergeser bukan lagi sekadar transaksi, melainkan soal nilai jangka panjang dan kualitas hidup penggunanya.
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengungkapkan, temuan tersebut terlihat dari laporan Pinhome Indonesia Residential Property Market Report Semester I 2026, yang memotret berbagai pergeseran preferensi konsumen di tengah dinamika ekonomi.
Secara nasional, lanjut dia, tota inventori rumah tapak masih mencatatkan pertumbuhan 5% dibanding semester sebelumnya. Namun, angka tersebut dipicu kondisi yang berbeda-beda di setiap daerah.
“Penundaan belanja infrastruktur memperlambat pertumbuhan di kota-kota penyangga IKN (Ibu Kota Negara). Rata-rata pertumbuhan di Samarinda dan Balikpapan yang sebelumnya tumbuh +9,2% pada Semester II 2025, kini bertumbuh +4,5% pada Semester I 2026,” ujar Dara, dalam talkshow bertajuk Tren Properti: Hunian Sebagai Simbol Peningkatan Kualitas Hidup, yang digelar Pinhome, di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Sementara itu di Bali Selatan, rencana moratorium pembangunan justru menekan inventori, tercatat kontraksi 1,6% di Kabupaten Badung selama periode yang sama. Di lain sisi, melonjaknya biaya konstruksi mendorong para pengembang untuk mulai banting setir memproduksi huian berukuran lebih ringkas sebagai strategi bertahan.
Baca Juga
Pinhome Sebut Rumah Harga Rp 300 Juta Hingga Rp 1 Miliar Masih Jadi Incaran
Pembeli Makin Selektif, tapi Minat Tak Surut
Dari sisi permintaan, Pinhome mencatat pergeseran pola perilaku calon pembeli. Aktivitas pencarian properti sedikit menurun, meski minat untuk langsung menghubungi agen atau pemilik properti tetap stabil. Menariknya, pencarian rumah secara umum tetap tumbuh positif dengan rata-rata 13% bulan sepanjang semester ini.
“Temuan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap hunian tetap tinggi, meski preferensi konsumen mengalami pergeseran,” kata Dara.
Pembangunan infrastruktur seperti Tol Jogja-Solo dan LRT Jabodebek turut mengerek pencarian properti di sekitar jalur tersebut. Sementara itu, berbagai insentif fiskal dan kebijakan hunian vertikal membuat segmen rumah dengan harga lebih terjangkau makin diminati.
“Di tengah kenaikan biaya pembangunan, konsumen juga semakin mempertimbangkan rumah seken siap huni sebagai alternatif yang lebih efisien,” ucap Dara.
Baca Juga
Pinhome Catat Tren “Tenor Stretching” KPR, Plafon Kredit Turun ke Bawah Rp 600 Juta
Tren Take Over
Kenaikan BI Rate ke level 5,75% ikut mengubah wajah pembiayaan perumahan. Dara menjelaskan, masyarakat kini jauh lebih selektif memilih skema kredit pemilikan rumah (KPR) akibat perubahan arah kebijakan suku bunga tersebut.
Menurutnya, pasar bukannya melemah, tapi tengah beradaptasi. Tercermin dari melonjaknya transaksi take over KPR yang kini mendominasi sekitar 60% dari pangsa pasar KPR secara keseluruhan. Untuk KPR komersial, segmen menengah senilai Rp 300 juta hingga Rp 1 miliar masih memimpin dengan kontribusi 49%, sementara segmen di bawah Rp 300 juta menyumbang 21%.
“Ini menunjukkan bahwa kebutuhan memiliki hunian tetap tinggi, sementara konsumen semakin aktif mencari solusi pembiayaan yang paling sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini,” ujar Dara.
Merespon pergeseran ini, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) menyatakan komitmennya melalui strategi Beyond Mortgage. Institutional Relationship Department Head BTN Yulia Fitri Nurman mengatakan, pembiayaan KPR diarahkan tak berhenti pada transaksi kepemilikan rumah semata.
“Tetapi menjadi awal dari ekosistem layanan keuangan yang mendukung kebutuhan nasabah secara berkelanjutan. Karena hidup tidak hanya tentang hari ini," katanya.
