Indonesia Bisa Jadi ‘Mekah-nya’ Dekarbonisasi Dunia
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia diyakini bisa menjadi pusat acuan bagi dekarbonisasi dunia dengan segala modal sumber daya yang ada baik berupa biodiversitas atau keanekaragaman hayati, didukung kekayaan mineral yang berada di bawah tanah hingga ketersediaan energi yang berlimpah di atas permukaan tanah.
Optimisme ini disampaikan oleh Anindya Bakrie Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) di Jakarta, Selasa (12/12/2023), dengan menganalogikan Indonesia sebagai “Mekkah” nya bagi upaya dekarboniasi dunia. “Saya percaya Indonesia bisa menjadi Mekkah-nya dekarbonisasi,”ujarnya.
“Bagaimana caranya, mengolah yang ada di dalam tanah dengan energi yang tak pernah habis di atas tanah, dengan tidak mengganggu biodiversitas. Mengapa, karena biodiversitas akan bisa digunakan untuk membiayai semuanya,” ujar Anin.
Berikutnya ia mencotohkan adanya Inflation Reduction Act of 2022 (IRA) yang dilansir parlemen Amerika Serikat, yang ditujukan agar Amerika Serikat bisa mengejar ketertinggalannya dari China seputar teknologi baterai kendaraan Listrik, dan teknologi energi terbarukan. Dari beleid yang dilansir oleh Presiden Joe Biden pada 16 Agustus 2022 tersebut, pemerintah AS menyediakan dana sebesar US$ 1 triliun, untuk menciptakan kemandirian teknologi dari segala produk yang berasal dari China.
Nah, dari contoh beleid tersebut, Anindya menyebutkan sejatinya Indonesia juga bisa memiliki peluang untuk mendapatkan dana sebesar US$ 1 triliun dari potensi kredit karbon sebanyak 1 gigaton karbon dioksida yang bisa ditangkap di dalam negeri, yang nantinya dana tersebut bisa digunakan untuk pengembangan perekonomian domestik.
Soal potensi kredit karbon tersebut pernah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat meresmikan Bursa Karbon Indonesia pada 26 September 2023 lalu, sebagai salah satu kontribusi untuk melawan krisis iklim.
“Jika benar (potensi kredit karbon) 1 giga ton, kalikan US$ 10 saja deh, sekarang kan angkanya sudah sampai US$50 – US$60, bisa sampai US$ 1 triliun. Jadi kita bisa dapat dana IRA versi kita,” kata Anin. “Jadi Indonesia bisa jadi Mekkah-nya dekarbonisasi,” imbuhnya.
Berikutnya, lanjut Anin, setiap entitas, organisasi, pengusaha, dan akademisi punya peran yang sama untuk mewujudkan dekarbonisasi. KADIN misalnya, bisa menyuarakan perihal potensi kredit karbon Indonesia ke COP 28. Sementara para akademisi bisa mengajak Stanford yang pernah menyebut akan membuka riset khusus untuk sutainability di Indonesia sehingga bisa menjadi prototipe yang terbaik.
“Setiap bagian dari masyarakat punya perannya masing-masing,” tutur Anin.
Berikutnya Anindya menyebutkan, dibutuhkan pemimpin yang punya rasa percaya diri. Terlepas bahwa Indonesia masih dalam tahap pengembangan ke arah net zero emission, dan masih menggunakan bauran energi dari batu bara. Faktanya, kata Anin, sejumlah negara pun saat ini banyak yang beralih ke energi fosil untuk menjaga ketahanan energi dalam negerinya.

