Kadin Sebut Ekonomi Indonesia Masuki 'Equilibrium Baru', Kepercayaan Investor Diproyeksi Kembali Pulih
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menangkap sinyal positif perbaikan indikator perekonomian pada kuartal II-2026, setelah sempat mengalami tekanan dalam tiga bulan pertama tahun ini.
“Kami melihat bahwa sentimen Indonesia ini sudah mulai ada percikan-percikan tanda-tanda positif yang selama tiga bulan sebelumnya tidak didapat. Kita bicara mengenai MSCI, Fitch, Moody's,” ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie dalam Konferensi Pers Kadin Business Pulse Q2 2026: Ketahanan Dunia Usaha di Tengah Pelemahan Rupiah dan Peluang ICA-CEPA di Menara Kadin, Rabu (15/7/2026).
Dia mencontohkan hasil pemeringkatan Standard & Poor's (S&P) melengkapi gambaran ekonomi Indonesia yang sedang dalam proses transformasi, dari berbasis sumber daya alam menuju basis sumber daya manusia.
Kesimpulan tersebut membuat dunia usaha harus memaklumi beberapa fokus program pemerintah pada peningkatan kesehatan anak melalui distribusi pangan bergizi, hingga penguatan perekonomian daerah.
“Dalam konteks sekarang ini, benar-benar Kadin memahami, harus menyiapkan upskilling teman-teman (pengusaha) di daerah,” imbuh Anin.
Kadin pun mengajak para anggotanya untuk menerima bahwa kondisi ekonomi global saat ini merupakan equilibrium atau keseimbangan baru. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi paradigma baru yang harus dihadapi dunia usaha.
Baca Juga
Kadin Ungkap Nilai Ekspor Indonesia Tembus US$300 Miliar Ditopang Sektor Manufaktur
Anindya mengerti bahwa pelaku usaha menginginkan nilai tukar Rupiah kembali ke kisaran Rp 16.000 per dolar AS dan suku bunga yang lebih rendah. Namun, berdasarkan pengalaman menghadapi krisis pada 1997, 2008, dan 2020, dia menegaskan bahwa setiap proses perbaikan ekonomi memiliki konsekuensi tersendiri.
“Tetapi kita melihat ini adalah gabungan dari equilibrium baru dan paradigma baru dimana Kadin harus menghadapi ini semua apa adanya,” tegas dia.
Ia meyakini kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Menurutnya, dalam satu hingga tiga tahun ke depan, arah perekonomian dapat kembali membaik seiring pulihnya kepercayaan investor global terhadap Indonesia.
Anin meyakini, tekanan geopolitik global mulai mereda dibandingkan beberapa waktu lalu. Ia melihat optimisme mulai tercermin dari meningkatnya antusiasme di pasar modal maupun minat investasi.
Di saat yang bersamaan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan sebesar 5% pada 2026 masih sangat mungkin dicapai. Optimisme ini didukung rekam jejak pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu dipertahankan di kisaran 5% selama sekitar 25 tahun.
“Inflasi juga terjaga, begitu pula dengan jumlah utang yang sehat,” sambungnya.
Dalam menghadapi tantangan global, Anin menilai dunia usaha perlu terus meningkatkan efisiensi, mempercepat adaptasi teknologi, serta melakukan diversifikasi pasar ekspor.
Ia mencontohkan masih rendahnya pemahaman pelaku usaha terhadap Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Menurutnya, sekitar 84% masyarakat bahkan belum mengetahui secara rinci isi perjanjian tersebut.
Kondisi itu berpotensi membuat Indonesia kehilangan peluang meningkatkan ekspor yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar AS. Padahal, peningkatan ekspor dinilai dapat memperkuat devisa negara dan menopang nilai tukar Rupiah, terutama menjelang implementasi penuh ICU-CEPA pada akhir tahun ini.
Sementara itu, berdasarkan komunikasi KADIN dengan investor global, perhatian dunia internasional kini tidak lagi berfokus pada potensi Indonesia. Menurutnya, investor justru menilai potensi Indonesia sudah cukup dipahami.
Anindya mengatakan terdapat tiga hal yang kini paling sering ditanyakan investor kepada Indonesia. Ketiganya meliputi kemampuan pemerintah mengeksekusi berbagai kebijakan, kepastian regulasi, serta kesiapan talenta nasional untuk mewujudkan visi Indonesia Emas.
