Freeport Proyeksikan Setoran ke Negara Tembus Rp 120 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kontribusi kepada negara berpotensi melampaui US$ 7 miliar atau sekitar Rp 120 triliun per tahun mulai 2028, seiring pulihnya produksi tambang bawah tanah dan beroperasinya penuh fasilitas smelter di Gresik.
Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengatakan, penerimaan negara pada 2026 diperkirakan turun dibandingkan tahun sebelumnya karena produksi masih berada dalam tahap pemulihan pasca-longsor di tambang Grasberg Block Cave (GBC). Namun, mulai 2027 hingga 2028, kontribusi kepada negara diproyeksikan kembali meningkat signifikan.
Baca Juga
"Kalau kita lihat pada 2026 penerimaan negara yang terdiri dari pajak, dividen, dan royalti memang menurun menjadi US$ 2,6 miliar dari tahun lalu US$ 4,3 miliar," ujar Tony dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Kendati demikian, Tony memastikan pemerintah tetap akan memperoleh dividen yang cukup besar melalui MIND ID. "Di dalamnya masih juga akan ada dividen sebesar US$ 1,1 miliar yang akan diterima oleh pemerintah melalui MIND ID," katanya.
Tony menjelaskan, peningkatan produksi mulai terlihat pada 2027 seiring percepatan ramp-up tambang bawah tanah dan kembali beroperasinya smelter baru di Gresik. Kondisi tersebut akan mendorong kenaikan penerimaan negara dari berbagai komponen. "Kalau kita lihat proyeksi 2027 sesuai dengan peningkatan produksi kita, maka penerimaan negara akan bisa mencapai US$ 4,7 miliar," sebut dia.
Menurut Tony, dari total penerimaan tersebut sekitar US$ 800 juta berasal dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) termasuk royalti, sekitar US$ 1,9 miliar berasal dari pajak, sementara dividen kepada pemerintah melalui MIND ID diperkirakan kembali mencapai sekitar US$ 1,9 miliar.
Tony menuturkan, ketika produksi tambang telah mencapai kapasitas normal pada 2028 dan seterusnya, kontribusi Freeport kepada negara akan meningkat jauh lebih besar. Hal itu ditopang oleh kenaikan volume produksi tembaga dan emas dari tambang bawah tanah serta optimalisasi hilirisasi mineral.
Baca Juga
Smelter Freeport Gresik Kembali Beroperasi September, Produksi Dipacu Bertahap Hingga Akhir 2026
"Begitu masuk sudah kapasitas produksi penuh, kita lihat bahwa penerimaan negara akan bisa melebihi US$ 7 miliar per tahun. Kalau kita rupiahkan itu kira-kira sekitar Rp 120 triliun per tahun. Begitu seterusnya di tahun-tahun ke depan," kata Tony.
Proyeksi tersebut disusun menggunakan asumsi harga tembaga sebesar US$ 6 per pound dan harga emas US$ 4.500 per ounce. Dengan pulihnya operasi tambang dan berjalannya fasilitas hilirisasi secara optimal, Freeport meyakini kontribusi terhadap penerimaan negara akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
