Hutama Karya Ungkap 3 Faktor Penentu Kesuksesan Pembiayaan Jalan Tol di RI
SURABAYA, investortrust.id – Direktur HC & Legal PT Hutama Karya (Persero), Muhammad Fauzan memaparkan hasil disertasinya yang berjudul ‘Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan pada Pembiayaan Infrastruktur Jalan Tol di Indonesia.’
Pemaparan ini disampaikan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor dari Institut Teknik Sepuluh Nopember (ITS). Dia menyebutkan, ada 3 dari 7 critical success factor (CSF) yang berpengaruh kuat dalam keberhasilan pembiayaan infrastruktur jalan tol.
“Top 3 dari 7 CSF yang berpengaruh kuat dalam kesuksesan pembiayaan, yaitu risk analysis and allocation, investment analysis, dan debt payment mechanism,” kata Fauzan di sidang terbuka promosi Doktor di ITS Surabaya, Jawa Timur yang dipantau melalui Zoom meeting, Senin (19/2/2024).
Sebagai informasi, 7 CSF yang dimaksud adalah risk analysis and allocation, investment analysis, debt payment mechanism, sources of financing, foreign financing issues, public-sector perspective, dan financing structure.
Baca Juga
Penyesuaian dan Penetapan Tarif Tol Serpong-Cinere Segera Diberlakukan, Ini Rinciannya
Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), proyeksi dana infrastruktur jalan Tol yang direncanakan membangun hingga 2.684 Km membutuhkan dana sekitar Rp837 triliun.
“Ini yang target sangat menantang dari Kementerian PUPR, total (panjang tol) sampai dengan 2024 sejumlah 2.600-an kilometer. Untuk itu kondisi ini harus ada solusinya, sehingga pembangunan tol yang kita idam-idamkan akan menyelesaikan berbagai masalah bisa disegerakan. Bahkan, badan usaha yang sudah mempunyai konsesi dan lainnya belum tentu bisa menyelesaikan masalah financial closing,” ucap Fauzan.
Pembiayaan Jalan Tol
Dalam kesempatan itu, Dia menyarankan untuk menyeimbangkan risiko dalam keberhasilan pembiayaan jalan tol, BUJT (Badan Usaha Jalan Tol), Pemerintah dan Lembaga Keuangan harus memastikan Present Value Revenue (PVR), penyesuaian tarif tol, realisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Over Dimensi dan Over Loading (ODOL), dan pembebasan lahan.
Baca Juga
Hutama Karya Patok Tol Trans Sumatera Tahap I Rampung Semester I-2024
“Untuk menyeimbangkan risiko bisnis BUJT, pemerintah dan lembaga keuangan dengan memastikan hal seperti kebijakan value revenue, penyesuaian tarif, realisasi yang harus continue over dimension dan overloading (ODOL), serta isu dan pembebasan lahan yang tentunya mengakibatkan cost overrun,” ungkap Fauzan.
Dari sisi peningkatan akurasi investment analysis, Fauzan menerangkan poin pentingnya adalah meningkatkan akurasi alat prediksi keuangan seperti NPV, DCF dan IRR guna untuk memperbaiki akurasi dari investment analysis tersebut.
“Poin pentingnya adalah akurasi dari investment analysis ini yang harus kita perbaiki sama-sama, karena sudah banyak data empiris yang membuktikan terjadinya shifting atau perbedaan yang signifikan antara hasil feasibility study (studi kelayakan/FS) dan realisasi proyek, seperti pada kasus tol Pekanbaru-Dumai dengan IRR direncanakan 16% namun hanya 11,15% yang tercapai,” imbuhnya.

