Eksplorasi Migas Harus Dipercepat Demi Target 'Lifting' 1 Juta Barel Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai pemerintah harus mempercepat eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) untuk mengejar target peningkatan lifting minyak 1 juta barel pada 2030 dalam rangka mendukung swasembada energi. Tanpa penemuan cadangan baru dalam waktu dekat, target tersebut akan sulit tercapai karena sebagian besar lapangan migas nasional telah memasuki fase penurunan produksi secara alami.
Produksi migas Indonesia saat ini masih berada di kisaran 600 ribu barel minyak per hari. Di sisi lain, belum terdapat penemuan cadangan migas berukuran besar atau giant discovery yang dapat menjadi penopang produksi nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga
"Saya kira eksplorasinya perlu dimasifkan. Kemudian lapangan-lapangan yang sudah ada juga harus dipertahankan produksinya karena eksplorasi membutuhkan waktu," ujar Komaidi kepada Investortrust di Gedung Elnusa Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, realisasi lifting (produksi siap jual) minyak Indonesia pada 2025 mencapai rata-rata 605.300 barel per hari. Sementara target lifting 2026 ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari (bph) dalam APBN 2026 . Untuk mencapai target tersebut, SKK Migas mengoperasikan 9 proyek hulu strategis baru dengan realisasi hingga akhir Mei 2026 mencapai 576,2 ribu bph
Ia menjelaskan pengembangan lapangan migas baru tidak dapat dilakukan secara instan. Sejak penemuan cadangan hingga memasuki tahap produksi komersial, proyek migas umumnya membutuhkan waktu sekitar 4-5 tahun.
Untuk itu, apabila pemerintah ingin mencapai target pada 2030, menurut Komaidi, penemuan cadangan baru seharusnya sudah mulai terjadi dalam waktu dekat agar dapat menggantikan produksi dari lapangan-lapangan yang terus mengalami penurunan.
"Paling tidak tahun ini sudah harus ada beberapa yang ditemukan untuk menggantikan lapangan-lapangan yang ada, karena memang ada kecenderungan produksinya terus mengalami penurunan," katanya.
Ia menambahkan pemerintah perlu bekerja lebih keras dan tidak lagi mengandalkan pola kerja business as usual. Selain menjaga produksi dari lapangan eksisting, eksplorasi harus dipercepat agar pasokan migas nasional tetap terjaga.
Ia menambahkan prospek pengembangan migas di Kalimantan masih cukup positif. Namun, produksi di wilayah tersebut masih bergantung pada lapangan-lapangan eksisting yang secara alami terus mengalami penurunan.
"Pengembangan maupun eksplorasi perlu dimasifkan karena sudah ada beberapa contoh eksplorasi yang berhasil menemukan cadangan baru," ujarnya.
Lapangan Lama Butuh Investasi Lebih Besar
Komaidi menilai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan produksi adalah mengembangkan wilayah di sekitar lapangan migas yang sudah beroperasi. Namun, strategi tersebut membutuhkan investasi yang lebih besar.
"Biasanya yang dilakukan adalah pengembangan di wilayah sekitarnya. Namun, pengembangan itu memerlukan biaya yang lebih mahal. Artinya, volume produksi bisa meningkat, tetapi secara bisnis menjadi tidak lebih menguntungkan dibanding sebelumnya karena biaya produksinya lebih tinggi," ujarnya.
Baca Juga
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pemerintah perlu merancang kebijakan yang tetap menarik bagi investor, sehingga pengembangan lapangan migas tetap layak secara ekonomi.
Terkait pengembangan migas nonkonvensional (MNK), Komaidi mengatakan potensi sumber daya memang cukup besar. Namun, karakteristik cadangan yang tersebar di banyak lokasi dengan ukuran relatif kecil masih menjadi tantangan bagi keekonomian proyek.
"Cadangannya cukup banyak, tetapi tersebar dan kecil-kecil sehingga aspek keekonomiannya masih menjadi perhatian para investor. Titik temu antara pemerintah dan investor menjadi sangat penting," katanya.
