Target Lifting Minyak 1 Juta Barel di 2030 Diundur
JAKARTA, investortrust.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memiliki target lifting minyak nasional sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) pada 2030. Namun, target tersebut akhirnya diundur 2-3 tahun lantaran dipengaruhi berbagai situasi dan kondisi.
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto menyampaikan, target 1 juta BOPD tersebut dibuat saat mereka menyusun long term planning pada 2019. Disebutkan bahwa pada saat itu mereka memasang target setelah melakukan review terhadap berbagai macam proyek dan opportunity.
“Namun di 2020 kita menghadapi pandemi Covid-19. Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan sangat terbatas, baik kegiatan di lapangan, proyek, dan lain sebagainya, sehingga terjadi kemunduran-kemunduran,” ungkap Dwi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (13/3/2024).
Baca Juga
Lifting Minyak 2023 Tak Capai Target, Ternyata Ini Penyebabnya
Berdasarkan hal tersebut, Dwi menyebut bahwa pihaknya akan meninjau ulang long term planning yang telah mereka buat sebelumnya. Menurutnya, target lifting minyak 1 juta BOPD pada 2030 harus diundur.
Berkaca situasi saat ini, lifting minyak dalam beberapa tahun terakhir juga mengalami penurunan. Pada 2022 lifting minyak Indonesia mencapai 612,3 ribu BOPD, sedangkan pada 2023 yang terealisasi adalah 605,5 ribu BOPD. Padahal target lifting minyak Indonesia di 2023 adalah 660 ribu BOPD.
“Sejak tahun kemarin kami sudah melihat bahwa setelah hampir 5 tahun (sejak long term planning dibuat), waktunya me-review kembali LTP yang kita miliki. Apalagi kita menghadapi pandemi 2-3 tahun waktu itu, dan kemudian realisasi pencapaian,” paparnya.
Baca Juga
Lifting Minyak di 2023 Turun, Kementerian ESDM Ungkap Penyebabnya
Dwi menyebutkan, kemungkinan target lifting minyak 1 juta BOPD ini akan mundur 2-3 tahun dari rencana semula. Dengan kata lain, target tersebut baru akan terealisasi di tahun 2032 atau 2033.
“Sebenarnya kami sudah mendapatkan resume-nya, tapi belum secara resmi kami launching untuk menjadi LTP yang baru, yang intinya kira-kira memang mundur sekitar 2-3 tahun karena diakibatkan pandemi yang kita hadapi,” ujar Dwi Soetjipto.

