PGN (PGAS) Genjot Gas Metana Batu Bara Tanjung Enim, Potensi Capai Rp 276 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) atau PGN subholding gas Pertamina, mempercepat pengembangan gas metana batu bara atau coalbed methane (CBM) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, sebagai sumber pasokan gas baru untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Proyek tersebut diproyeksikan mampu membuka monetisasi gas non-konvensional domestik senilai US$ 15,4 miliar (sekitar Rp 276 triliun) sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi
Baca Juga
PGN (PGAS) Perkuat Keandalan Infrastruktur Gas Lewat Budaya Keselamatan
.
PGN pada Jumat (3/7/2026), menerima kunjungan kerja Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman di Stasiun Penerima Gas dan Stasiun Kompresor Gas Pagardewa, Sumatra Selatan. Kunjungan tersebut juga dihadiri Kasdam II/Sriwijaya Brigadir Jenderal TNI Iwan Ma'ruf Zainudin, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Edward Candra, Sekretaris Daerah Kabupaten Muara Enim Yulius, anggota DPRD Kabupaten Muara Enim Jonidi serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
KSP memastikan pelaksanaan program prioritas nasional berjalan efektif, khususnya yang berkaitan dengan ketahanan energi, peningkatan kapasitas produksi energi domestik, dan pengurangan ketergantungan terhadap impor energi.
Kepala Kantor Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman mengatakan percepatan pengembangan CBM menjadi perhatian bersama karena memiliki nilai strategis bagi kepentingan nasional.
Menurut Dudung, masih terdapat sejumlah aspek administrasi yang perlu diselesaikan, termasuk penyesuaian rencana detail tata ruang (RDTR). "Namun, seluruh pihak telah sepakat untuk mempercepat penyelesaiannya sesuai ketentuan yang berlaku," kata dia dikutip Senin (6/7/2026).
Kantor Staf Presiden juga mendorong penyelesaian hambatan lintas sektor agar pengembangan gas metana batu bara di Muara Enim dapat segera memasuki tahap komersialisasi, dengan tetap mengikuti mekanisme administrasi dan regulasi yang berlaku.
PGN menyatakan telah menyiapkan skema teknis dan komersial untuk memanfaatkan potensi CBM tersebut. Penyaluran gas ditargetkan meningkat secara bertahap mulai dari 1 million standard cubic feet per day (MMSCFD) atau juta kaki kubik standar per hari hingga mencapai 25 MMSCFD guna memenuhi kebutuhan industri dan pembangkit listrik.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, potensi CBM di Tanjung Enim diperkirakan mencapai sekitar 9,7 TCF OGIP (original gas in place atau estimasi total kandungan gas di dalam reservoir). Besarnya cadangan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu sumber diversifikasi pasokan gas domestik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto menyampaikan apresiasi atas dukungan Kantor Staf Presiden dalam memperkuat pengembangan gas bumi domestik dan mengurangi impor energi nasional.
Menurut Arief, dukungan tersebut sangat penting untuk membantu penyelesaian berbagai kendala dalam pembangunan infrastruktur gas bumi di wilayah Pagardewa dan sekitarnya.
Siapkan Tiga Sumber Pasokan Baru
Selain mengembangkan CBM, PGN juga memperluas sumber pasokan gas melalui biomethane yang berasal dari limbah kelapa sawit serta synthetic natural gas (SNG). Ketiga sumber energi tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Sumatera Selatan.
"Dalam upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Sumatra Selatan, PGN melaksanakan pengembangan infrastruktur injection point. Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coalbed methane, dari biomethane ataupun juga sumber lainnya akan dikumpulkan yang kemudian akan dimasukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada," jelas Arief.
PGN menilai integrasi infrastruktur berbasis pipa maupun non-pipa menjadi faktor utama untuk memaksimalkan penyerapan energi domestik. Sebagai subholding gas Pertamina, perusahaan mengandalkan jaringan infrastruktur gas bumi yang telah dimiliki untuk menghubungkan sumber pasokan dengan konsumen, sekaligus menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).
Baca Juga
PGN (PGAS) Perluas Jargas CNG Clustering di Yogyakarta, Ini Dampaknya
Meski kesiapan operasional telah disiapkan, PGN menegaskan percepatan proyek strategis tersebut tetap memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Perusahaan menilai peran Kantor Staf Presiden penting untuk memperkuat koordinasi lintas sektor sehingga tindak lanjut setiap pihak dapat berjalan lebih efektif.
"PGN menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk terus mengawal kebijakan Pemerintah. Dari wilayah Muara Enim dan Pagardewa, PGN bertekad menghadirkan solusi energi domestik yang bersih, andal, dan memberikan multiplier effect yang luas bagi masyarakat dan berkontribusi pada perekonomian daerah," tutup Arief.
