Pertamina Jelaskan Alasan Harga Pertamax RON 92 Belum Turun Meski Minyak Dunia Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero) menjelaskan alasan harga Pertamax RON 92 belum mengalami penurunan meski harga minyak dunia melemah. Perusahaan menyatakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dilakukan berdasarkan formula yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga tidak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah global.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan kebijakan harga BBM mengacu pada ketentuan yang diatur dalam peraturan menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM) mengenai mekanisme perhitungan harga jual BBM.
Baca Juga
Gejolak Global Belum Sepenuhnya Reda, Bahlil Tak Bisa Pastikan Harga Pertamax Kembali Seperti Semula
"Seperti yang kita dapatkan di dalam peraturan, permen itu mengenai pola perhitungan BBM. Kami mengikuti prosedur tersebut," kata Baron, saat ditemui di kantor Pertamina, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa penetapan harga BBM yang berlaku mulai 1 Juli dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku serta mempertimbangkan berbagai komponen pembentuk harga.
"Apa yang terjadi kemarin 1 Juli adalah berdasarkan aturan dan juga harga minyak. Komponen dari kemampuan atau daya beli masyarakat itu tetap menjadi salah satu pertimbangan kami dalam menetapkan harga," ujarnya.
Memasuki 1 Juli 2026, PT Pertamina (Persero) menurunkan harga jual BBM nonsubsidi. Harga Pertamax Turbo turun Rp 1.450 atau sekitar 7% dari Rp 20.750 per liter menjadi Rp 19.300 per liter. Penurunan juga terjadi pada produk diesel, seperti Pertamina Dex yang turun dari Rp 24.800 per liter menjadi Rp 21.150 per liter. Sedangkan Dexlite turun dari Rp 23.000 per liter menjadi Rp 19.700 per liter.
Selain faktor harga, kata Baron, Pertamina juga terus memantau perubahan pola konsumsi masyarakat antara BBM bersubsidi dan BBM nonsubsidi untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan optimal.
"Kalau shifting atau kegiatan perubahan dari pengguna, sebenarnya ini memang kami terus memantau, sehingga dalam penyaluran sendiri kami melihat bagaimana kami melakukan BBM non-subsidi dan BBM subsidi tersebut," katanya.
Soal harga minyak dunia yang sudah turun di bawah US$ 80 per barel, tetapi harga BBM belum menyesuaikan sebelumnya Alif Hijriah, lulusan Program Studi Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) yang aktif sebagai kreator konten mengatakan berpendapat, mengacu Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mengatur formula harga eceran BBM nonsubsidi, evaluasi penyesuaian harga didasarkan pada rata-rata harga publikasi (seperti MOPS) dalam periode 2 bulan sebelumnya sampai tanggal 24 pada 1 bulan sebelum penetapan bulan berjalan.
"Saat ini harga di kisaran US$ 80 baru beberapa hari, tentu saja jika harga di level itu berlangsung 2 bulan, maka harga Pertamax bisa turun," kata Alif dalam akun Instagran pribadinya dipantau Investortrust.id.
Baca Juga
Harga BBM Pertamina Juli 2026: Pertamax Turbo Turun, Pertamax Tak Alami Perubahan
Gangguan LNG
Dalam kesempatan yang sama, Baron juga menyinggung dampak gangguan pasokan liquefied natural gas (LNG) terhadap distribusi energi di sejumlah wilayah. Menurut dia, dampak terbesar dirasakan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten karena pasokan LNG menyumbang sekitar 20% dari kebutuhan gas nasional.
"Sebenarnya kalau LNG ini yang kemarin paling berdampak adalah untuk daerah Jawa Barat, DKI, dan Banten, karena sebenarnya kalau LNG itu adalah 20% dari kebutuhan gas nasional. Dan penyebaran tidak rata," ujarnya.
