Tujuh Dekade Menjaga Akar, Jejak Gobel di Nadi Industrialisasi Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id "Dari dulu di rumah orang tua saya pakainya Panasonic. Sampai sekarang masih awet." Kalimat seperti itu masih sering terdengar dari banyak konsumen Indonesia ketika berbicara tentang produk elektronik yang menemani kehidupan sehari-hari mereka selama puluhan tahun.
Bagi sebagian keluarga, produk-produk yang lahir dari ekosistem Gobel Group bukan sekadar perangkat elektronik. Televisi yang menghadirkan siaran pertama di ruang keluarga, kipas angin yang terus berputar di tengah cuaca panas, hingga lemari es yang menjadi bagian dari aktivitas rumah tangga sehari-hari telah membentuk ikatan emosional lintas generasi.
Tak sedikit konsumen yang tumbuh bersama merek-merek yang berada di bawah naungan Gobel Group. Dari generasi orang tua hingga anak-anak mereka, produk-produk tersebut menjadi saksi perjalanan Indonesia yang terus berubah, mulai era pembangunan, krisis ekonomi, hingga transformasi digital.
Kedekatan yang terbangun lintas generasi itu pada akhirnya melahirkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar loyalitas konsumen, yakni kepercayaan.
Kepercayaan yang bertahan selama puluhan tahun itu bukan hadir dalam semalam. Di baliknya terdapat perjalanan panjang sebuah kelompok usaha nasional yang sejak awal tidak hanya membangun bisnis, tetapi berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Tahun ini, Gobel Group menandai perjalanan 70 tahun sebagai salah satu kelompok usaha yang tumbuh bersama Indonesia dan terus bertransformasi menjadi holding modern yang relevan di setiap zaman.
Di usia ke-70 tahun, Gobel Group menjadi contoh bagaimana perusahaan keluarga nasional dapat berkembang menjadi holding modern dengan portofolio bisnis yang menjangkau manufaktur, perdagangan, logistik, layanan kesehatan, makanan dan perhotelan, hingga infrastruktur strategis.
Baca Juga
Pakar brand Yuswohady mengatakan berbagai riset global terhadap perusahaan yang mampu bertahan 50 tahun hingga 100 tahun menunjukkan pola yang relatif sama. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki budaya korporasi (corporate culture) kuat sekaligus kemampuan belajar dan beradaptasi secara berkelanjutan.
“Budaya perusahaan berfungsi sebagai perekat nilai dan karakter yang menjaga organisasi tetap solid dalam jangka panjang,” kata Yuswohady yang pernah menulis sekitar 40 buku mengenai pemasaran saat dihubungi Investortrust.id.
Selain budaya perusahaan, faktor kedua yang menentukan keberlangsungan bisnis adalah kemampuan belajar atau learning. Kemampuan ini memungkinkan perusahaan beradaptasi terhadap perubahan pasar, teknologi, dan perilaku konsumen.
Meski demikian, Yuswohady menilai terdapat karakteristik khusus yang membedakan perusahaan besar di Indonesia dengan perusahaan-perusahaan global yang telah berusia ratusan tahun. Dalam konteks Indonesia, selain budaya perusahaan dan kemampuan belajar, terdapat dua faktor tambahan yang sangat berpengaruh, yakni faktor politik dan keluarga.
Sejumlah faktor tersebut—budaya perusahaan, kemampuan belajar, dinamika politik, dan kesinambungan keluarga—menjadi lensa yang menarik untuk melihat perjalanan panjang Gobel Group selama tujuh dekade terakhir.
Pandangan ini relevan dengan perjalanan Gobel Group yang telah melewati berbagai fase perubahan, mulai dari era industri analog, krisis ekonomi Asia 1998, globalisasi, hingga transformasi digital saat ini.
Dari Radio Transistor Menuju Fondasi Industrialisasi Nasional
Perjalanan Gobel Group dimulai pada 1954 ketika mendiang Thayeb Mohammad Gobel asal Gorontalo mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing. Pada masa ketika Indonesia masih membangun fondasi ekonomi pascakemerdekaan, langkah tersebut menjadi terobosan penting karena menghasilkan radio transistor pertama buatan dalam negeri bernama Tjawang.
Langkah itu lahir dari semangat nasionalisme untuk memenuhi kebutuhan perangkat komunikasi lokal sekaligus tonggak penting karena menunjukkan kemampuan industri nasional dalam memproduksi perangkat elektronik yang sebelumnya masih bergantung pada impor.
Pada perkembangan berikutnya, pabrik Tjawang juga merakit kendaraan roda tiga Bemo untuk kebutuhan angkutan umum serta traktor guna mendukung program mekanisasi pertanian nasional.
Momentum penting lainnya hadir pada 1960 melalui kerja sama strategis dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. dari Jepang yang kini dikenal sebagai Panasonic. Kemitraan tersebut membuka jalan bagi transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan standar manufaktur Indonesia. Hasil dari kolaborasi tersebut mulai terlihat dalam waktu relatif singkat.
Sekitar 8 tahun kemudian sejak berdiri, perusahaan mencatat sejarah baru dengan memproduksi televisi hitam putih pertama di Indonesia. Kehadiran televisi tersebut memungkinkan masyarakat menyaksikan Asian Games IV Jakarta 1962 dan menjadi simbol kemampuan industri nasional menguasai teknologi yang saat itu masih tergolong maju.
Produk televisi pertama tersebut bahkan diberikan kepada Ibu Negara Fatmawati Soekarno. Penyerahan itu menjadi simbol keberhasilan industri nasional dalam menghasilkan karya teknologi yang mampu mendukung agenda pembangunan dan kebanggaan bangsa.
Tonggak penting lahir pada 1970 ketika berdiri PT National Gobel yang kini dikenal sebagai PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Langkah tersebut memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain utama industri elektronik nasional.
Pada periode 1972 hingga 1977, Grup Gobel memperluas jaringan usahanya dengan mendirikan sejumlah perusahaan pendukung. Perusahaan-perusahaan tersebut, antara lain PT Met Gobel dan PT Gobel Dharma Nusantara yang bergerak di bidang perdagangan, PT Gobel Dharma Karya Yasa yang fokus pada layanan logistik, PT Gobel Dharma Cipta Yasa di sektor jasa, serta PT Gobel Dharma Sarana Karya yang bergerak di bidang katering. Ekspansi unit usaha pendukung ini menciptakan ekosistem bisnis terintegrasi. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan mengelola rantai pasok, distribusi, dan layanan secara lebih efisien.
Komitmen Grup Gobel tidak hanya terfokus pada dunia usaha. Pada 1979, perusahaan mendirikan Yayasan Pendidikan Matsushita Gobel. Yayasan tersebut dibentuk dengan tujuan meningkatkan kecerdasan dan kemakmuran masyarakat Indonesia melalui sektor pendidikan. Langkah ini menandai perluasan kontribusi perusahaan dari pengembangan industri menuju pembangunan sumber daya manusia.
Fase penting lainnya ketika pada 1981 pendiri perusahaan Thayeb Gobel menerima penghargaan Bintang "Third Class Order of the Sacred Heritage" atau Kun Santo Zuikosho dari Pemerintah Jepang.
Transformasi berikutnya terjadi pada 1994 melalui pendirian PT Gobel International sebagai holding company. Kehadiran perusahaan induk ini menjadi fondasi tata kelola yang lebih modern sekaligus memperkuat koordinasi berbagai lini usaha yang terus berkembang.
Bertahan Melewati Krisis dan Pergantian Generasi
Keberlanjutan perusahaan keluarga sering kali diuji ketika memasuki generasi kedua atau ketiga. Banyak kelompok usaha besar gagal bertahan akibat konflik kepemilikan, lemahnya tata kelola, atau ketidakmampuan beradaptasi.
Namun, Gobel Group mampu menjaga kesinambungan bisnis setelah wafatnya Thayeb Gobel pada 1984. Pendiri Grup Gobel tersebut meninggal dunia setelah puluhan tahun membangun dan mengembangkan perusahaan yang menjadi salah satu simbol industrialisasi Indonesia.
Kepergiannya mendapat perhatian luas. Presiden Soeharto memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dianggap memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan industri nasional dan hubungan ekonomi Indonesia dengan Jepang.
Wafatnya Thayeb Gobel menandai berakhirnya era kepemimpinan generasi pendiri yang telah meletakkan fondasi kuat bagi pertumbuhan Grup Gobel sejak 1950-an.
Tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh anak kelima sekaligus putra pertama Thayeb, yakni Rachmat Gobel, yang kemudian memimpin transformasi perusahaan menghadapi era globalisasi. Masuknya Rachmat Gobel menandai lahirnya generasi kedua kepemimpinan Gobel. Ia melanjutkan warisan yang telah dibangun pendahulunya, sekaligus menghadapi tantangan baru di tengah perubahan industri global dan meningkatnya persaingan bisnis.
Sepeninggal ayahnya pada 1984, Rachmat diserahkan kendali atas bisnis keluarga. Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1993 ketika Rachmat Gobel mulai menjalankan kepemimpinan di Matsushita Gobel Group. Pada 1996, Presiden Soeharto memberikan Penghargaan Primaniyarta kepada kelompok usaha Gobel atas keberhasilannya dalam kegiatan perdagangan ekspor.
Namun, perjalanan perusahaan tidak selalu berjalan mulus. Setelah melewati berbagai fase pertumbuhan, Gobel Group menghadapi salah satu ujian terberat dalam sejarah bisnis Indonesia.
Ujian terbesar datang saat krisis ekonomi 1998 mengguncang Indonesia. Krisis telah membuat banyak kelompok usaha besar Indonesia bertekuk lutut. Utang perusahaan besar, pasar menyusut, dan sistem manajemen yang berat mencegah banyak dari mereka mendapatkan kembali kekuatan sebelumnya, yang juga, telah dibangun di atas fondasi patronase yang lemah.
Hanya beberapa yang memiliki pandangan ke depan dan keterampilan manajemen untuk bertahan hidup, bahkan berkembang dalam keadaan meresahkan seperti itu. Gobel Group yang dipimpin oleh Rachmat Gobel termasuk di antaranya
Baca Juga
Menjelang pergantian milenium, Grup Gobel tidak hanya memperkuat bisnis elektronik, tetapi juga memperluas kontribusi kepada masyarakat melalui pembinaan usaha kecil, pengembangan kualitas industri pertelevisian, serta penguatan kemitraan strategis dengan perusahaan Jepang. Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi perusahaan menghadapi era persaingan global.
Kepercayaan yang terbangun selama puluhan tahun membuat kerja sama Gobel dan Panasonic diperpanjang tanpa batas waktu pada 2000. Kesepakatan tersebut menjadi simbol kuatnya hubungan bisnis yang dibangun atas dasar kepercayaan dan visi jangka panjang.
Perubahan penting berikutnya terjadi pada 2003 ketika perusahaan mulai menerapkan merek tunggal Panasonic dan melakukan perubahan nama perusahaan. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi global untuk menyatukan identitas merek di berbagai negara. Sebelumnya, sejumlah produk masih menggunakan nama National yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia.
Kontribusi untuk Industri dan Ekonomi Indonesia
Seiring semakin matangnya bisnis, ruang kontribusi Gobel Group juga berkembang melampaui industri elektronik yang menjadi fondasi awal perusahaan. Kontribusi Gobel Group tidak berhenti pada sektor elektronik. Perusahaan terus memperluas perannya dalam mendukung pembangunan nasional.
Melalui Panasonic Energy Gobel Indonesia, produk baterai dan komponen industri diekspor ke lebih dari 50 negara. Sementara PHC Indonesia memproduksi berbagai perangkat kesehatan yang dipasarkan ke lebih dari 125 negara.
Di sektor pangan dan perhotelan, PT Gobel Dharma Sarana Karya dipercaya sebagai master caterer Asian Games 2018 Jakarta-Palembang dengan menyediakan sekitar 49.000 porsi makanan setiap hari bagi atlet dan ofisial dari 46 negara. Pada ajang yang sama, Panasonic turut mendukung pencahayaan LED, panel surya, dan sistem pendingin udara di berbagai fasilitas olahraga.
Baca Juga
Peringati HUT ke-70, Gobel Group Siap Kolaborasi Bangun Pariwisata Gorontalo
Berdasarkan data perusahaan, pada 2019 total penjualan bersih seluruh lini bisnis Gobel Group mencapai sekitar Rp 17 triliun dengan laba sekitar Rp 1 triliun. Jumlah karyawan telah mencapai lebih dari 18.000 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Gobel Group juga mengoperasikan kawasan industri di Cibitung, Bogor, dan Pasuruan yang melayani kebutuhan pasar domestik sekaligus ekspor. Untuk mendukung layanan pelanggan, perusahaan memiliki 312 titik layanan yang tersebar di lebih dari 40 kota besar di Indonesia.
Selain Panasonic Corporation Jepang, Gobel Group juga menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah perusahaan global, seperti PHC Corporation, Satake Corporation, Chateraise Group, Nihon Parkerizing, Kaikoukai Healthcare Group, SMB Kenzai, hingga Gruppo Pellegrini dari Italia.
Saat ini Gobel Group memiliki portofolio yang mencakup empat sektor utama, yakni elektronik dan manufaktur, trading dan services, food and hospitality, serta property and infrastructure.
Filosofi Pohon Pisang Jadi DNA Perusahaan
Di balik ekspansi bisnis dan berbagai capaian tersebut, terdapat seperangkat nilai yang terus dijaga dari generasi ke generasi melalui Filosofi Pohon Pisang. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa sebuah pohon pisang akan terus melahirkan tunas baru setelah menghasilkan buah. Maknanya, keberhasilan tidak berhenti pada satu generasi atau satu pencapaian, melainkan harus terus memberikan manfaat dan menciptakan keberlanjutan.
Nilai tersebut diterjemahkan dalam tujuh prinsip perusahaan yang meliputi, dedikasi, kejujuran, kerja sama, perbaikan berkelanjutan, kerendahan hati, kemampuan beradaptasi, serta rasa syukur.
"Manusia harus hidup seperti pohon pisang. Setelah berbuah, ia melahirkan tunas baru yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya," kata Rachmat Gobel yang saat ini memimpin Gobel Group dalam sebuah kesempatan.
Sebagai pemimpin industri, Rachmat Gobel berperan aktif sebagai juru bicara industri. Sejak 1999 aktif di berbagai asosiasi bisnis, pernah menjabat sebagai ketua asosiasi di bidang elektronika hingga wakil ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Mengingat pengalamannya yang panjang dalam mengelola dan memimpin kegiatan joint venture Panasonic-Gobel di Indonesia, pada 2006 ia diangkat sebagai presiden Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang.
Pada 2014-2015, Rachmat Gobel menjabat sebagai menteri perdagangan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sementara pada 2017 -2019 menjabat sebagai utusan khusus presiden Indonesia untuk Jepang. Pada 2019 terpilih sebagai wakil ketua DPR. Adapun kini menjabat sebagai anggota Komisi VI DPR yang membidangi perdagangan dan BUMN.
Presiden ke-3 RI BJ Habibe pernah menekankan bahwa tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, suatu bangsa akan sulit menjadi bangsa yang maju. Industrialisasi bukan sekadar membangun pabrik, melainkan membangun kemampuan manusia untuk menciptakan inovasi secara berkelanjutan.
Baca Juga
Rachmat Gobel: Lindungi Industri Nasional dari Gempuran Impor
Semangat transfer teknologi yang dijalankan Gobel bersama Panasonic sejalan dengan pemikiran BJ Habibie yang meyakini bahwa kemajuan bangsa ditentukan oleh inovasi. Gagasan tersebut tercermin dalam kemitraan Gobel dan Panasonic yang selama puluhan tahun menjadi salah satu contoh transfer teknologi paling berkelanjutan antara Indonesia dan Jepang.
Perjalanan Gobel Group selama 70 tahun menunjukkan bahwa usia panjang perusahaan bukanlah hasil kebetulan. Di baliknya terdapat kombinasi budaya perusahaan yang kuat, kemampuan belajar yang berkelanjutan, kemitraan strategis, serta keberanian untuk bertransformasi.
“70 tahun bukan hanya tentang perjalanan sebuah kelompok usaha. Bagi saya, ini juga tentang melanjutkan nilai yang diwariskan keluarga kami bahwa keberhasilan harus kembali memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel.
Gobel Group menyatakan kesiapan untuk menjalin kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah di Provinsi Gorontalo. Langkah kemitraan ini ditujukan guna mendorong pengembangan sektor pariwisata lokal serta memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat secara inklusif. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung pembangunan daerah terintegrasi, khususnya melalui optimalisasi sektor pariwisata dan pertanian yang menjadi pilar utama wilayah tersebut.
Rachmat Gobel, menjelaskan bahwa kontribusi korporasi di tanah kelahiran leluhurnya tersebut diimplementasikan melalui pendekatan sosial yang menyentuh masyarakat hulu. "Hal itu diwujudkan lewat penataan berbagai ruang publik dan destinasi wisata guna mendorong kebahagiaan masyarakat, sekaligus menggerakkan ekonomi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)," kata Rachmat Gobel saat memberikan keterangan kepada wartawan di Gorontalo pada Minggu, (21/6/2026).
Tokoh manajemen modern, Peter Drucker, pernah mengatakan bahwa cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.
Bagi Gobel Group, masa depan tidak sekadar menjadi tujuan, melainkan proses yang terus dibangun dari generasi ke generasi. Seperti pohon pisang yang terus menumbuhkan tunas baru setelah berbuah, warisan yang ditanam tujuh dekade lalu kini berkembang menjadi fondasi bagi lahirnya inovasi dan kontribusi baru untuk Indonesia.
