Proyek 'Mixed-Use' Kota Tua dan Lebak Bulus Rp 1,046 Triliun Ditawarkan ke Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menawarkan dua proyek pengembangan kawasan berbasis transit atau transit oriented development (TOD) kepada investor pada tahun ini, yakni proyek mixed-use Kota Tua Jakarta dan Lebak Bulus Park & Ride Mixed-Use.
Berdasarkan data Jakarta Investment Centre (JIC) yang dikutip Rabu (24/6/2026), nilai investasi yang dibutuhkan untuk kedua proyek tersebut mencapai Rp 1,046 triliun.
Proyek pertama adalah XGL Development yang merupakan pengembangan mixed-use pertama di kawasan Kota Tua Jakarta. Kawasan ini akan mencakup hotel, area ritel, serta berbagai fasilitas pendukung untuk menunjang pertumbuhan sektor pariwisata di Kota Tua.
Baca Juga
Lokasi proyek berada di Jalan Pintu Besar Selatan dan berdekatan dengan Stasiun KRL Jakarta Kota. Dalam pengembangannya, kawasan tersebut juga direncanakan memiliki akses langsung ke stasiun MRT.
Dalam keterangan dikutip Rabu (24/6/2026), JIC menyebut peluang pasar proyek ini didukung oleh peningkatan jumlah penumpang harian KRL yang berkunjung ke Kota Tua Jakarta. Pertumbuhan kunjungan wisata ke berbagai destinasi di kawasan tersebut juga tercermin dari perkembangan sektor ritel, khususnya makanan dan minuman (F&B).
XGL Development membutuhkan investasi Rp 558 miliar dengan estimasi tingkat pengembalian investasi (investment rate of return) sebesar 11,42%. Proyek ini memiliki weighted average cost of capital (WACC) sebesar 8,22% dan periode pengembalian modal (paybackperiod) selama sembilan tahun.
Proyek tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 5.919 meter persegi (m2) dengan total gross floor area (GFA) mencapai 47.629 m2. Kawasan itu akan terdiri atas area ritel seluas 12.700 m2, hotel dan fasilitas meeting, incentives, conventions and exhibitions (MICE) seluas 15.822 m2, serta area perkantoran seluas 1.700 m2. Pengembangan proyek ditargetkan mulai pada 2028.
Selain TOD Kota Tua, Pemprov DKI juga menawarkan proyek Lebak Bulus Park & Ride Mixed-Use yang berlokasi di Jalan Ciputat Raya Nomor 14, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kawasan ini berada di samping Depo MRT Jakarta dan Stasiun MRT Lebak Bulus. Proyek tersebut akan mengintegrasikan fungsi transit dengan area komersial dan hunian.
Menurut JIC, peluang pasar proyek ini didorong oleh terus meningkatnya jumlah penumpang harian MRT Jakarta. Hunian dengan konsep TOD yang memiliki akses pejalan kaki menuju stasiun MRT juga dinilai menjadi daya tarik bagi penghuni maupun pengembang.
Selain itu, tingkat okupansi fasilitas park and ride di sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus rata-rata mencapai 83% untuk kendaraan roda empat dan 69% untuk sepeda motor.
Proyek Lebak Bulus Park & Ride Mixed-Use membutuhkan investasi sebesar Rp 487,7 miliar. Nilai net present value (NPV) proyek tersebut tercatat sebesar Rp 204,7 miliar dengan tingkat pengembalian investasi sebesar 14,10%.
Proyek ini memiliki WACC sebesar 8,22% dan periode pengembalian modal selama 10 tahun. Pengembangan akan dilakukan di atas lahan seluas 13.333 m2 dengan total gross floor area mencapai 54.820 m2, termasuk area parkir seluas 5.077 m2 dan area ritel seluas 5.103 m2.
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan pengembangan delapan kawasan TOD di berbagai wilayah 'Kota Batavia' dalam lima tahun ke depan.
Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota, Nirwono Yoga mengatakan, pengembangan TOD tersebut telah tercantum dalam rencana detail tata ruang (RDTR) Jakarta dan sebagian sudah berjalan.
“Kalau dalam rencana detail tata ruang Jakarta memang ada beberapa TOD yang sedang dikembangkan. Setidaknya selain Blok M ya, itu ada Lebak Bulus, ada Fatmawati, ada Dukuh Atas, ada (Bundaran) HI, ada Harmoni, dan untuk Kota Tua kita targetkan 2029 selesai,” papar Nirwono di Blok M Hub Gojek, Jakarta Selatan, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, selain enam kawasan tersebut, terdapat dua lokasi lain yang tengah dalam tahap persiapan. “Selain itu juga ada beberapa yang sedang dalam persiapan, seperti Cawang Hub ya dengan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), dan juga ada Pasar Baru juga,” ungkap Nirwono.
Baca Juga
Kota Tua Berbenah Diri Menuju 500 Tahun Jakarta, Simak Perubahannya
Nirwono menyebut, pengembangan TOD ke depan akan tersebar di berbagai penjuru Jakarta, mulai dari pusat, utara, timur hingga barat yang dibidik menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah DKJ.
“Harapannya nanti semakin banyak TOD-TOD yang dikembangkan, ini menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Jadi tidak hanya Blok M, tapi juga kita punya misalnya di pusat nanti ada Pasar Baru, kemudian nanti di utara nanti ada Kota Tua, bahkan di timur misalnya ada Cawang, dan juga di barat mungkin selain Harmoni ada Grogol. Jadi poin-poin itu nanti yang kita dorong menjadi kawasan TOD dalam waktu 5 tahun ke depan,” pungkas dia.
