9 Perusahaan Logistik BUMN akan Dilebur Jadi Holding BUMN Logistik, Ini Rinciannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pos Indonesia (Persero) mengungkapkan adanya rencana pemerintah untuk menggabungkan perusahaan-perusahaan logistik yang ada di BUMN menjadi holding BUMN logistik. Terdapat sebanyak sembilan perusahaan yang akan dikonsolidasi.
Menurut Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Daud Joseph perusahaan-perusahaan tersebut yakni PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Prima Indonesia Logistik (PIL) yang saat ini berada di bawah Pelindo, PT Pos Logistik Indonesia (Poslog), PT Sarana Bandar Logistik (SBL) milik PT Pelni, PT KBN Prima Logistik (KPL), PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS), serta PT Krakatau Jasa Logistik (KJL).
Kendati demikian, PT Danantara kembali menyurati PT Pos Indonesia (Persero) untuk memperluas konsolidasi tambahan dua perusahaan logistik BUMN lainnya, yakni PT Semen Indonesia Logistik (Silog) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Sehingga menjadi 9 perusahaan logistik yang bergabung.
"Nah ini adalah tujuh perusahaan yang di awal Juli nanti, 1 Juli, akan bergabung dalam satu perusahaan yang namanya adalah PT MTI atau Multi Terminal Indonesia," ujar Daud dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, Senin (22/6/2026).
Baca Juga
Harga BBM Naik Tekan Industri Logistik, Perusahaan Ekspedisi Tawarkan Layanan Hemat
Menurut Daud, masuknya Silog dan Pilog akan memperkuat ekosistem logistik nasional karena keduanya merupakan pemilik muatan (cargo owner) yang memiliki volume distribusi besar di sektor semen dan pupuk.
“Dengan tambahan dua perusahaan tersebut, nantinya akan ada sembilan BUMN logistik yang bergabung di bawah Pos Indonesia,” tambah Daud.
Ia menjelaskan, konsolidasi ini akan membuka peluang sinergi yang lebih luas antarpelaku logistik BUMN. Selama ini, sejumlah perusahaan hanya memiliki kekuatan di wilayah tertentu, terutama Pulau Jawa. Sementara perusahaan lain memiliki jaringan yang lebih merata hingga ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Melalui integrasi tersebut, perusahaan-perusahaan yang sebelumnya memiliki keterbatasan jangkauan dapat memanfaatkan jaringan nasional yang dimiliki entitas lain. Dampaknya, cakupan layanan logistik BUMN diproyeksikan meningkat signifikan.
Saat ini, total titik layanan kumulatif perusahaan-perusahaan yang akan bergabung tercatat sekitar 78 titik. Setelah konsolidasi, jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 150 hingga 160 titik layanan di berbagai wilayah Indonesia.
Selain memperluas jaringan distribusi, pembentukan holding logistik juga diharapkan mampu menurunkan biaya logistik nasional melalui integrasi rantai pasok. Selama ini, setiap tahapan layanan logistik dijalankan oleh perusahaan berbeda yang masing-masing mengambil margin keuntungan tersendiri.
"Selama ini anak-anak perusahaan BUMN logistik itu sebetulnya mengerjakan mata rantai yang terpisah, dan ini juga merupakan sebab kenapa biaya logistik di Indonesia ini sangat tinggi Karena masing-masing perusahaan mengambil profit marginnya masing-masing," bebernya.
