Emas Bisa Makin Berkilau Pasca-Selat Hormuz Dibuka, Bisa Tembus US$ 4,874 pada Akhir Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dunia masih akan melanjutkan tren penguatan hingga akhir tahun meski harga minyak mentah diperkirakan mengalami penurunan setelah dibukanya kembali Selat Hormuz. Kondisi tersebut dinilai akan mendorong investor mengalihkan dananya ke aset safe haven, seperti emas.
Secara teknikal, harga emas dunia hingga akhir tahun berpotensi menuju level sekitar US$ 4.874 per troy ounce dari saat ini i US$ 4.327,82 per ons.
Ibrahim mengatakan, kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni di Geneva, Swiss, menjadi sentimen utama yang menekan harga minyak mentah.
“Informasi tersebut membuat harga minyak mentah mengalami penurunan. Saat ini harga minyak mentah itu sudah di bawah US$ 80, tepatnya di US$ 79 dan kemungkinan besar akan terus mengalami pelemahan yang mendekati di level US$ 75,” kata Ibrahim kepada awak media, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, pelemahan harga minyak juga didorong oleh kondisi fundamental pasar yang tengah mengalami kelebihan pasokan. Ia menyebut kebutuhan minyak global saat ini sekitar 100 juta barel per hari, sementara produksi mencapai 103,1 juta barel per hari sehingga terjadi oversupply.
Baca Juga
Harga Emas Capai Rekor Tertinggi Sepekan, Pasar Sambut Damai AS-Iran
Dengan berakhirnya krisis di Selat Hormuz, Ibrahim menilai harga minyak akan kembali bergerak mengikuti fundamentalnya di bawah US$ 75 per barel. Selain itu, kondisi tersebut justru akan mendorong investor kembali melakukan pembelian emas dunia maupun logam mulia.
Ia menjelaskan, turunnya harga minyak akan menekan biaya transportasi dan logistik sehingga ikut menurunkan inflasi global. Kondisi tersebut membuka peluang bagi bank sentral, khususnya Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), untuk mulai menurunkan suku bunga acuannya pada periode mendatang.
“Turunnya inflasi secara global ini akan membuat bank sentral Amerika kemungkinan masih mempertahankan suku bunga pada pertemuan terdekat, tetapi di bulan-bulan berikutnya bukan menaikkan suku bunga melainkan akan menurunkan suku bunga acuannya,” katanya.
Sementara itu, Ibrahim menilai ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur, masih akan menjaga permintaan emas tetap tinggi. Menurutnya, sejumlah bank sentral dunia terus menambah cadangan emas sebagai langkah diversifikasi devisa.
Ia menyebut Tiongkok pada Mei lalu membeli sekitar 10 ton emas batangan dan diperkirakan masih akan menambah kepemilikannya pada Juni. Sementara itu, Bank Indonesia juga disebut telah membeli sekitar 2 ton emas pada awal kuartal II sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa.
Ibrahim menambahkan, setelah Selat Hormuz kembali dibuka, investor yang sebelumnya menempatkan dana di valuta asing berpotensi beralih ke emas maupun emas digital seiring prospek penguatan berbagai mata uang terhadap dolar Amerika Serikat.
Baca Juga
Harga Emas Capai Rekor Tertinggi Sepekan, Pasar Sambut Damai AS-Iran
“Pada saat pasca-Selat Hormuz dibuka kemungkinan besar semua mata uang melawan dolar Amerika akan mengalami penguatan sehingga akan ada eksodus besar-besaran terhadap peralihan dari valuta asing kembali ke logam mulia atau emas digital,” ujar dia.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia masih akan terus menguat hingga akhir tahun. Menurutnya, secara teknikal harga emas dunia berpotensi menuju level sekitar US$ 4.874 per troy ounce, sehingga pembukaan kembali Selat Hormuz justru menjadi momentum yang membuat harga emas dunia dan logam mulia kembali berkilau.
