Harga Emas Ambruk ke Titik Terendah 6 Bulan karena Inflasi AS Memanas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas jatuh ke level terendah dalam enam bulan pada Kamis (11/6/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun. Kondisi tersebut memicu aksi jual besar-besaran pada aset safe haven yang selama ini menjadi pilihan utama saat ketidakpastian meningkat.
Kontrak berjangka emas pengiriman Agustus sempat menyentuh US$ 4.046,20 per ons atau titik terendah sejak November tahun lalu. Dalam sepekan terakhir, harga emas telah merosot 6,3%, menempatkannya di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut sekaligus menjadi performa terburuk sejak pertengahan Maret ketika logam mulia itu terkoreksi 9,62%. Pada perdagangan terakhir, harga emas tercatat melemah 0,5% menjadi US$ 4.111,10 per ons.
Emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven, yakni instrumen investasi yang cenderung diburu ketika pasar dilanda ketidakpastian. Logam mulia juga kerap digunakan sebagai pelindung nilai terhadap inflasi.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Terkoreksi, 'Buyback' Anjlok Rp 40.000
Namun, berbeda dengan obligasi atau deposito, emas tidak memberikan imbal hasil. Untuk itu, daya tariknya sangat dipengaruhi ekspektasi terhadap tingkat suku bunga riil dalam jangka panjang. Konflik Iran yang kini memasuki bulan keempat turut memperburuk tekanan inflasi global setelah memicu kenaikan harga energi dan berbagai komoditas lainnya.
Inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada Mei meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan tersebut terutama dipicu kenaikan harga energi.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan Amerika Serikat juga menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dibandingkan perkiraan. Kombinasi dua faktor tersebut memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin perlu menaikkan suku bunga pada akhir tahun guna mengendalikan tekanan harga.
Pekan depan, bank sentral Amerika Serikat diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75% dalam pertemuan pertama Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve.
Mayoritas ekonom dalam survei Reuters memperkirakan suku bunga tidak berubah sepanjang tahun ini. Padahal, pada awal tahun banyak pelaku pasar memprediksi akan terjadi beberapa kali pemangkasan suku bunga.
Meski demikian, pelaku pasar justru mengambil posisi lebih agresif. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember kini mencapai 67%.
Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik instrumen berdenominasi dolar AS seperti surat utang pemerintah, sehingga mengurangi minat investor terhadap emas.
Citi Optimistis untuk Jangka Panjang
Citigroup menilai tekanan terhadap emas semakin besar setelah harga logam mulia tersebut menembus di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak September 2023. Dalam analisis teknikal, kondisi itu kerap dipandang sebagai sinyal negatif.
Bank investasi tersebut telah bersikap hati-hati terhadap prospek emas sejak konflik Timur Tengah meningkat pada Maret lalu. Salah satu alasannya adalah lonjakan biaya energi akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz. Meski begitu, Citi tetap mempertahankan pandangan positif untuk jangka panjang.
"Meskipun pelaku pasar kesulitan dengan prospek jangka pendek, yang sangat bergantung pada hasil dari Selat Hormuz, pandangan konsensus tetap konstruktif dalam jangka menengah hingga panjang karena permintaan non-siklik yang kuat dari meningkatnya fragmentasi geopolitik global, kekhawatiran utang negara dan penurunan nilai mata uang yang masih ada, serta tren diversifikasi cadangan bank sentral yang berkelanjutan," kata analis Citi.
Menurut Citi, meningkatnya fragmentasi geopolitik, tingginya utang pemerintah, pelemahan mata uang, serta diversifikasi cadangan devisa bank sentral tetap menjadi fondasi kuat bagi permintaan emas dalam jangka panjang.
JPMorgan memperkirakan tren pelepasan posisi dalam perdagangan yang memanfaatkan kekhawatiran pelemahan nilai mata uang masih akan berlanjut, baik oleh investor ritel maupun institusi. Bank tersebut menilai penarikan dana yang mulai terlihat beberapa pekan lalu terus berlanjut hingga saat ini.
JPMorgan mengaitkan fenomena tersebut dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya defisit pemerintah, prospek inflasi jangka panjang, dan ketidakpastian geopolitik global sejak 2022.
"Kerangka sinyal momentum kami juga menunjukkan terus berlanjutnya penarikan diri dari perdagangan pelemahan nilai mata uang. Pola sejak awal konflik Iran serupa dengan aliran ETF dan proksi posisi berjangka," tulis JPMorgan.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Kehilangan Kilau Efek Kekhawatiran Inflasi AS
Analisis JPMorgan menunjukkan dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) berbasis emas mencatat arus keluar sekitar US$ 20 miliar atau setara Rp 328 triliun hingga pekan yang berakhir pada 5 Juni 2026. Arus keluar tersebut terjadi setelah ETF emas sempat mencatat arus masuk moderat pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, ETF bitcoin juga menunjukkan peningkatan arus keluar secara bertahap selama empat pekan terakhir. Di pasar berjangka, investor juga terus mengurangi eksposur terhadap perdagangan yang bertumpu pada skenario pelemahan mata uang. JPMorgan mencatat tren pengurangan posisi emas telah berlangsung sejak akhir Februari dan cenderung stabil sejak pertengahan April.
