Perang Dagang Kubu AS-Cina Memanas, Kurs Rupiah Ambruk ke Rp 16.374/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ambruk di pasar spot pada perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (14/6/2024). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), mata uang Garuda melemah 87 poin ke level Rp 16.374/USD, dibandingkan posisi kemarin Rp 16.286/USD.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, hingga pukul 16.00 WIB, rupiah bergerak mendekati posisi Rp 16.400/USD, setelah menembus batas psikologis Rp 16.300/USD. Nilai tukar rupiah melemah 130 poin terhadap dolar Amerika Serikat, dibanding posisi Rp 16.264/USD pada penutupan perdagangan Kamis (13/6/2024).
Ambruknya nilai tukar mata uang Garuda ini seiring dengan menguatnya indeks dolar AS dan Uni Eropa (UE) mengumumkan tarif tinggi antara 17% hingga 30% untuk impor kendaraan listrik Tiongkok. SAIC Motor Corp Ltd diperkirakan yang akan paling terpukul, karena menghadapi bea masuk paling tinggi di antara perusahaan sejenis. UE mengikuti jejak sekutunya AS dalam mengenakan tarif tinggi pada kendaraan listrik Tiongkok yang industrinya berkembang pesat.
"Pemicu utama melemahnya rupiah adalah perang dagang antara UE dan AS dengan Tiongkok. Perang dagang ini semakin panas, usai UE menerapkan tarif tinggi untuk komponen mobil listrik dan aki listrik," kata analisis pasar valas yang juga Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, di Jakarta, Jumat (14/6/2024).
Baca Juga
Tidak seperti AS, UE mewakili pasar utama bagi produsen kendaraan listrik Tiongkok. Tarif tersebut juga meningkatkan kekhawatiran bahwa UE dan AS akan memberlakukan lebih banyak pembatasan terhadap impor Tiongkok.
Kebijakan Tarif AS: India Tarik Investasi Keluar dari Cina, Bagaimana Indonesia?
Tidak seperti AS, UE mewakili pasar utama bagi produsen kendaraan listrik Tiongkok. Tarif tersebut juga meningkatkan kekhawatiran bahwa UE dan AS akan memberlakukan lebih banyak pembatasan terhadap impor Tiongkok.
Sementara, Beijing juga dapat mengumumkan tindakan pembalasan. Hal ini akan merusak hubungan antara negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Data Harga Produsen Turun
Ibrahim juga membeberkan data harga produsen AS yang dirilis pada Kamis (13/6/2024) waktu setempat, yang secara tidak terduga turun pada bulan Mei 2024. Indeks harga produsen (PPI) utama turun turun 0,2% bulan lalu, dibanding pada bulan April yang naik sebesar 0,5%.
"Kemudian, harga inti pada Mei datar, setelah mengalami kenaikan 0,5% pada bulan sebelumnya. Hal ini terjadi setelah indeks harga konsumen AS bulan Mei pada yang dirilis hari Rabu lebih lemah dari perkiraan para ekonom," paparnya.
Baca Juga
Yang Diuntungkan Vietnam dan Thailand, Perdagangan ASEAN untuk Pertama Kalinya Terbesar ke AS
Jika digabungkan IHK dan PPI, kemungkinan besar inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) AS -- yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed -- juga akan menunjukkan penurunan tekanan harga. Namun, optimisme terhadap pendinginan inflasi tidak cukup untuk menahan penguatan dolar.
Hingga pukul 18.12 WIB, sebagaimana dilansir Yahoo Finance, indeks dolar AS menguat ke level 105,54. Indeks menguat 0,35 poin atau 0,33% dibanding hari sebelumnya.

