Harga Emas Anjlok ke Level Terendah Sepekan, Dolar AS dan Yield Obligasi Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepekan pada Jumat (15/5/2026), tertekan lonjakan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) serta penguatan dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong spekulasi pasar bahwa suku bunga acuan AS berpotensi tetap tinggi lebih lama.
Harga emas spot turun 2% menjadi US$ 4.556,46 per ons, level terendah sejak Senin (5/5/2026). Sepanjang pekan ini, logam mulia tersebut telah terkoreksi lebih dari 3%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni merosot 2,7% ke US$ 4.561,50 per ons.
Analis Marex Edward Meir mengatakan aksi jual dipicu sejumlah faktor yang datang bersamaan. Dolar AS menguat cukup signifikan dan pasar juga menyaksikan kenaikan tingkat imbal hasil obligasi, tidak hanya di Amerika Serikat (AS) tetapi juga secara global.
Baca Juga
Harga Emas Melemah di Tengah Tekanan Inflasi, Pasar Tunggu Pertemuan Trump-Xi
Ia menegaskan kondisi tersebut memperburuk tekanan pada emas, yang secara alami tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen obligasi. Kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun ke level tertinggi dalam hampir setahun membuat biaya peluang memegang emas semakin besar. Ketika investor bisa memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari obligasi, minat terhadap emas biasanya menurun.
Pada saat yang sama, dolar AS diperkirakan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar dalam 2 bulan. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam itu membuat harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat, sehingga menekan permintaan.
Sentimen pasar juga dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kesabarannya terhadap Iran telah habis. Trump juga dinilai tidak memberikan terobosan berarti terkait hubungan dagang dengan China maupun upaya konkret untuk menghentikan konflik yang terus berlangsung.
Menurut Meir, minimnya kontribusi China dalam meredakan konflik ikut memicu kenaikan harga minyak mentah. Ia menilai lonjakan minyak memperkuat narasi inflasi global, yang berdampak negatif terhadap harga logam mulia.
Harga minyak mentah sendiri telah melonjak lebih dari 40% sejak perang antara AS-Israel dan Iran pecah. Lonjakan tersebut meningkatkan tekanan inflasi global karena biaya energi yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara luas.
Baca Juga
Harga Emas Tertekan, Pasar Cermati Prospek Suku Bunga AS dam Pertemuan Trump-Xi
Dalam situasi seperti itu, bank sentral cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi. Kebijakan moneter ketat umumnya mengurangi daya tarik emas karena investor beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil.
Data CME FedWatch menunjukkan pelaku pasar masih memperkirakan adanya penurunan suku bunga AS pada tahun ini. Namun, probabilitas skenario kenaikan suku bunga mulai meningkat seiring ekspektasi inflasi yang memburuk.

