Laba PGE (PGEO) Melejit 40% Ditopang Margin Tinggi dan Kenaikan Produksi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE mencatatkan kinerja keuangan impresif pada kuartal I-2026, dengan lonjakan laba bersih yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatan.
Director of Finance PGE Fransetya Hutabarat mengungkapkan pendapatan perseroan mencapai US$116,56 juta, tumbuh 14,82% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sejalan dengan itu, kinerja operasional juga menunjukkan penguatan, tercermin dari EBITDA yang meningkat menjadi US$96,54 juta atau naik sekitar 15% yoy.
Baca Juga
Produksi Listrik PGE (PGEO) Melejit 15%, Lumut Balai Jadi Motor Pertumbuhan Baru
“Laba bersih perseroan mencapai US$ 43,9 juta, tumbuh signifikan sebesar 40,02% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Fransetya dalam konferensi pers yang digelar secara online, Selasa (5/5/2026).
Dia menambahkan, pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan mencerminkan ekspansi margin yang kuat dalam operasional perusahaan.
Dari sisi profitabilitas, PGE membukukan kinerja yang sangat solid dengan gross profit margin sebesar 57,97%, EBITDA margin 82,82%, serta net income margin mencapai 37,66%. “Hal ini mencerminkan bahwa model bisnis panas bumi di PGE memiliki karakteristik margin profitability yang tinggi apabila dibandingkan dengan perusahaan sejenis,” kata Fransetya.
Kinerja positif tersebut didorong oleh sejumlah faktor utama. Pertama, peningkatan produksi listrik menjadi 1.370 GWh, tumbuh sekitar 15% yoy yang langsung berkontribusi terhadap pendapatan. Kedua, optimalisasi capacity factor di sejumlah wilayah kerja, khususnya Kamojang dan Lumut Balai, yang meningkatkan efisiensi pemanfaatan aset.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Incar Kenaikan Kapasitas 2,5 Kali Lipat pada 2033, Ini Strateginya
Ketiga, kontribusi penuh dari Lumut Balai Unit 2 yang telah beroperasi sejak Juni 2025, sehingga menambah volume produksi secara signifikan pada periode berjalan.
Selain itu, faktor eksternal juga turut mendukung kinerja, yakni adanya keuntungan selisih kurs (foreign exchange gain) akibat pelemahan yen Jepang terhadap dolar AS, mengingat sebagian pinjaman perseroan berdenominasi yen.
“Secara keseluruhan, kinerja perseroan menunjukkan bahwa pertumbuhan yang dicapai didorong oleh fundamental operasional yang kuat serta didukung oleh faktor struktural yang solid sehingga memberikan landasan yang kokoh bagi pertumbuhan berkelanjutan di masa mendatang,” sebutnya.

