Laba Bersih PGE (PGEO) Melonjak 40% pada Kuartal I 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), atau PGE membukukan pertumbuhan laba bersih 40% pada kuartal I 2026 menjadi US$ 43,899 juta dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, yaitu US$ 31,352 juta. Kinerja positif ini memperkuat posisi perseroan dalam mempercepat ekspansi panas bumi nasional di tengah dorongan transisi energi dan meningkatnya kebutuhan ketahanan energi Indonesia.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 116,555 juta pada kuartal I 2026 atau meningkat 14,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 101,507 juta.
Baca Juga
Prospek Energi Panas Bumi RI Besar, Kapasitas Diproyeksi 3,8 GW
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Fransetya Hutabarat mengatakan perseroan berhasil menjaga profitabilitas yang sehat sekaligus mempertahankan arus kas operasional yang kuat sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. "Pertumbuhan ini didorong efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan Perseroan,” ujar Fransetya, Jumat (1/5/2026).
Selain peningkatan laba dan pendapatan, PGE juga mencatat penguatan struktur fundamental perusahaan. Total aset perseroan naik 0,71% dibandingkan posisi akhir 2025 menjadi US$ 3,06 miliar. Sementara ekuitas meningkat 2,23% menjadi US$ 2,09 miliar. Kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar US$ 745,213 juta atau tumbuh 3,72% dibandingkan 31 Desember 2025.
Pada saat yang sama, liabilitas turun 2,44% menjadi US$ 964,737 juta. Penurunan kewajiban tersebut memperkuat struktur modal perseroan sekaligus menurunkan risiko keuangan perusahaan.
Panas Bumi Jadi Pilar Ketahanan Energi
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani menegaskan bahwa ketegangan geopolitik global dan tekanan pada sektor energi justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan panas bumi.
“Kondisi global tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin mengoptimalkan pengembangan panas bumi. Sejalan dengan itu, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama, yakni optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru,” kata Ahmad Yani.
Menurut dia, kinerja solid perseroan dalam beberapa tahun terakhir menjadi fondasi penting untuk memperluas manfaat ekonomi dan sosial melalui pengembangan energi bersih.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034, pemerintah menargetkan porsi energi baru terbarukan mencapai 76% dari tambahan kapasitas pembangkit. Dari target tersebut, panas bumi diproyeksikan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt.
Baca Juga
Untuk mendukung target itu, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 gigawatt pada 2034. Saat ini, perseroan mengelola 15 wilayah kerja (WK) panas bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 727 megawatt. Kapasitas tersebut setara dengan sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, menjadikan PGE sebagai pemain dominan dalam pengembangan geotermal di Indonesia.
Selain mencatat pertumbuhan bisnis, PGE juga memperkuat reputasi keberlanjutan di level global. Perseroan meraih skor environmental, social, and governance (ESG) sebesar 7,1 dari lembaga pemeringkat Sustainalytics. Capaian tersebut menempatkan PGE sebagai perusahaan dengan peringkat ESG tertinggi di Indonesia.

