Produksi Listrik PGE (PGEO) Melejit 15%, Lumut Balai Jadi Motor Pertumbuhan Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE mencatatkan kinerja operasional yang solid dengan pertumbuhan produksi listrik yang signifikan pada awal 2026, didorong optimalisasi aset dan peningkatan permintaan energi.
Director of Operation PGE Andi Joko Nugroho mengungkapkan bahwa produksi listrik pada kuartal I-2026 mencapai 1.370 gigawatt hour (GWh), meningkat 15,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1.189 GWh. Secara tahunan, PGE mencatatkan total produksi sebesar 5.095 GWh pada 2025 dan menargetkan peningkatan menjadi 5.255 GWh pada 2026.
Baca Juga
PGE dan PLN Sepakati Tarif Listrik Proyek Panas Bumi Lahendong 15 MW
“Ini menunjukkan bahwa setiap penambahan kapasitas yang kami lakukan dapat langsung dikonversi menjadi output produksi dan mencerminkan eksekusi operasional yang solid,” ucap Andi dalam konferensi pers yang digelar secara online, Selasa (5/5/2026).
Dari sisi kontribusi wilayah kerja, Kamojang masih menjadi penyumbang terbesar dengan produksi 483 GWh dari kapasitas 235 MW, didukung oleh tingkat utilisasi (capacity factor) yang tinggi.
Selanjutnya, wilayah Ulubelu mencatat produksi 408 GWh dari kapasitas 220 MW dengan tren kinerja yang stabil dan meningkat. Sementara itu, Lumut Balai menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi, menghasilkan 240 GWh dari kapasitas 110 MW, terutama didorong kontribusi penuh Unit 2 yang mulai beroperasi sejak Juni 2025.
Adapun wilayah Lahendong mencatat produksi 213 GWh, sedikit menurun akibat kegiatan pemeliharaan rutin, sedangkan Karaha menghasilkan 26 GWh dengan kinerja relatif stabil meski menghadapi tantangan teknis.
“Secara keseluruhan ini portofolio aset PGE ini menunjukkan kondisi solid dan resilient sehingga mampu menjaga pertumbuhan produksi secara berkelanjutan,” kata Andi.
Andi menjelaskan, peningkatan produksi didorong beberapa faktor utama, antara lain optimalisasi capacity factor di sejumlah area, termasuk Kamojang yang mencapai 95,52%. Selain itu, peningkatan permintaan listrik turut berkontribusi, seiring berkurangnya pasokan pembangkit berbasis batu bara akibat kenaikan harga gas, sehingga pembangkit panas bumi menjadi lebih kompetitif.
Faktor lain adalah tambahan pasokan uap (steam supply) dari penyelesaian sumur (make-up well) yang memberikan kontribusi sekitar 41 MW terhadap kapasitas produksi.
Di wilayah Ulubelu, produksi meningkat sekitar 7,8% berkat tambahan pasokan uap, sementara Lumut Balai mencatat lonjakan hampir 99% secara tahunan, dengan kedua unitnya kini beroperasi pada tingkat utilisasi di atas kapasitas terpasang. “Hal ini karena demand yang tinggi dan kemampuan pembangkit untuk menghasilkan lebih dari kapasitas terpasang,” jelasnya.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Incar Kenaikan Kapasitas 2,5 Kali Lipat pada 2033, Ini Strateginya
Kendati demikian, beberapa tantangan tetap dihadapi, seperti penurunan produksi di Lahendong akibat maintenance serta tekanan di Karaha akibat isu kualitas uap (steam purity), yang telah ditangani melalui langkah mitigasi.
Dengan kinerja awal tahun yang kuat, PGE optimistis dapat mempertahankan tren pertumbuhan produksi sepanjang 2026, seiring optimalisasi operasional dan meningkatnya peran energi panas bumi dalam bauran energi nasional.

