Geotermal Tak Sekadar Listrik, Ini Strategi Baru Pertamina untuk Dorong Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero) mengoptimalkan pengembangan energi panas bumi di luar sektor kelistrikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di berbagai sektor untuk mempercepat transisi energi sekaligus memperluas manfaat energi terbarukan bagi aktivitas ekonomi lokal.
Pengembangan panas bumi menjadi bagian dari strategi mendukung kemandirian energi nasional sejalan dengan agenda Asta Cita Pemerintah. Perusahaan melalui subholding energi baru dan terbarukan terus memperluas pemanfaatan geotermal tidak hanya untuk pembangkit listrik.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina Muhammad Baron mengatakan sekitar 90 negara telah memanfaatkan panas bumi sebagai energi alternatif untuk menopang aktivitas ekonomi. Pertamina New & Renewable Energy dan anak usahanya, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, mulai melakukan diversifikasi bisnis geotermal ke luar sektor kelistrikan atau beyond electricity, termasuk pengembangan hidrogen hijau dan kredit karbon.
Baca Juga
Pertamina Dukung Penindakan BBM dan LPG Ilegal dengan Potensi Kerugian Negara Rp 1,2 Triliun
“Sebagian besar pemanfaatan energi global berasal dari panas bumi, tetapi porsi penggunaannya dalam bentuk energi tenaga listrik. Inisiatif pengembangan beyond electricity PGE ini menjadi peluang besar bagi Indonesia yang memiliki potensi geothermal melimpah,” ujar Baron dikutip Senin (27/4/2026).
Ia menambahkan, energi panas bumi memiliki keunggulan dari sisi efisiensi, emisi rendah, serta keberlanjutan lingkungan, sehingga berpotensi menjadi solusi optimal dalam pemanfaatan energi bersih di wilayah kerja geotermal.
“Dengan cakupan pemanfaatan yang luas di berbagai sektor ekonomi masyarakat, energi panas bumi menjadi salah satu solusi paling efektif dalam mengoptimalkan energi terbarukan di sekitar wilayah kerja geothermal Pertamina,” imbuhnya.
Pemanfaatan Langsung Masyarakat
Pjs Corporate Secretary Pertamina New & Renewable Energy Rika Gresia Wahyudi menjelaskan bahwa pemanfaatan panas bumi kini telah dirasakan masyarakat tanpa melalui konversi menjadi listrik. Pemanfaatan ini dilakukan melalui program community involvement and development (CID), yakni program pelibatan dan pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Uap panas bumi saat ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar area panas bumi yang dikelola PGE melalui program pelibatan dan pengembangan masyarakat atau CID, antara lain untuk perkebunan dan pertanian,” jelas Rika.
Di Kamojang, Pertamina mengembangkan program kopi geotermal yang memanfaatkan uap panas bumi untuk pengeringan biji kopi. Metode ini membuat proses pengeringan lebih cepat dan tidak bergantung pada kondisi cuaca, sehingga meningkatkan kualitas hasil produksi petani.
Sementara itu, di Ulubelu, pemanfaatan panas bumi diterapkan pada budidaya melon hidroponik di kawasan Pekon Muara Dua, Kabupaten Tanggamus. Uap panas bumi digunakan untuk menjaga suhu di dalam rumah kaca agar pertumbuhan tanaman lebih optimal dan menghasilkan buah dengan kualitas lebih baik.
Pengembangan serupa juga dilakukan di Lahendong. Pertamina bekerja sama dengan PT Gunung Hijau Masarang untuk memanfaatkan fluida panas bumi dalam produksi gula aren yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga
Dominasi Jakarta Pertamina Enduro Berlanjut, Pertahankan Gelar Proliga 2026
Selain itu, masyarakat setempat juga memanfaatkan endapan silika dari fluida panas bumi menjadi pupuk cair ramah lingkungan bernama Pupuk Booster Katrili. Produk ini dihasilkan dengan teknologi pengolahan modern dan telah membantu meningkatkan kesuburan tanah serta ketahanan tanaman terhadap hama.
“Energi bersih tidak hanya untuk listrik. Ada banyak cara untuk mengoptimalkannya agar dirasakan langsung oleh masyarakat. Inovasi ini sejalan dengan komitmen Pertamina untuk menciptakan nilai tambah dari energi panas bumi demi mendukung pembangunan yang lebih berkelanjutan dan inklusif di Indonesia,” tutup Rika.

