Indonesia Tak Bisa Disamakan dengan Eropa untuk Bangun Pembangkit Geotermal
JAKARTA, investortrust.id - Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkapkan, penolakan sebagian masyarakat Indonesia terhadap pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geotermal (panas bumi) ternyata mendapatkan sorotan dari Eropa.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengatakan, Eropa heran dengan penolakan tersebut. Sebab, pengembangan PLTP di Eropa tidak mendapat penolakan dari masyarakatnya mengingat kebutuhan transisi energi dan target net zero emission (NZE).
“Nah, saya kasih tahu konteks di Indonesia ke teman-teman yang ada di Eropa itu. Konteksnya beda dengan di Eropa. Geotermal di sini itu jaraknya hanya 100 meter dari rumah penduduk,” kata Bhima, dikutip Senin (23/6/2025).
Baca Juga
Geotermal Indonesia Bisa Jadi Nomor 1 Dunia Salip AS! Syaratnya "Sedot" Subsidi BBM Dahulu
Bhima menerangkan, dengan jarak berdekatan permukiman penduduk, jika dilakukan eksplorasi pengeboran, bisa menyebabkan kerusakan rumah masyarakat.
“Kalau dieksplorasi dibor, sudah begitu dibor titiknya salah, enggak dapat panas bumi seperti yang diinginkan, tembok rumah itu goyang. Sudah tahu, masyarakat adat sebagian juga rumahnya bukan rumah permanen. Banyak yang masih semi-permanen,” jelas dia.
Menurut dia, hal-hal seperti ini yang tidak terjadi di Eropa. Sebab, lokasi eksplorasi geotermal jauh dari permukiman sehingga tidak mengganggu masyarakat. “Energi itu akan sangat spesifik tergantung dari lokasi, geolokasi, selain masalah-masalah keteknisan lainnya,” ungkap Bhima.
Baca Juga
Potensi Raksasa Geotermal Indonesia Terkurung 'Single Buyer', PLTP Sulit Tumbuh?
Sebelum ini, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebutkan, kantornya yang terletak di Cikini, Jakarta, pernah didemo oleh masyarakat yang menolak pengembangan PLTP.
Menurutnya, hal ini terjadi karena masyarakat belum mengetahui keunggulan pembangkit EBT. Padahal, pengembangan pembangkit geotermal sebetulnya sudah menuai kesuksesan di beberapa lokasi, seperti di Ulubelu, Kamojang, Lahendong, dan Patuha.
“Saya itu ditentang. Jadi ada juga yang acceptability-nya EBT ini belum masif. Ini saya meminta kepada para akademisi, kepada semua stakeholder, tolong siarkan ke semua tempat bahwa EBT itu menyelesaikan dan menumbuhkan perekonomian,” kata Eniya.

