Bahlil Minta PLN Bangun Pembangkit Geotermal Berkapasitas 40 MW di Maluku
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta PT PLN (Persero) segera membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geotermal berkapasitas 40 megawatt (MW) di Provinsi Maluku.
Bahlil menerangkan, pembangunan PLTP ini sebagai bagian dari upaya pemerintah memastikan seluruh masyarakat mendapatkan hak sama untuk mengakses energi secara cukup, merata, dan terjangkau.
Baca Juga
"Dalam implementasinya, PT PLN sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang ditunjuk oleh negara dalam melakukan penugasan agar semua masyarakat bisa mendapatkan listrik," ujar Bahlil seusai meninjau Unit Pelaksana Penyaluran dan Pengaturan Beban (UP3B) di Ambon, Maluku, dikutip Minggu (6/4/2025).
Menurutnya, Maluku memiliki potensi panas bumi sebesar 40 MW yang perlu segera dibangun. Dia menegaskan bahwa proyek PLTP tersebut telah dimasukkan ke dalam draf Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2025-2034 sebagai langkah strategis menuju transisi energi bersih melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).
"Saya sudah masukkan dalam RUPTL (PLN), supaya apa? Tidak lagi tergantung pada solar. Tidak lagi tergantung pada batu bara. Jadi begitu ada mesin-mesin pembangkit yang sudah tua, yang diesel, langsung diganti pada EBT, sebagai bentuk dari concern pemerintah untuk menyediakan EBT sebagai konsensus internasional," jelas dia.
Diketahui, proyek PLTP di Maluku yang dimaksud Bahlil, mencakup PLTP Wapsalit 20 MW di Pulau Buru dan PLTP Tulehu 2x10 MW di Pulau Ambon. PLTP Wapsalit saat ini masih dalam tahap eksplorasi oleh pengembang swasta dan ditargetkan operasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada 2028. Sementara itu, PLTP Tulehu tengah dalam tahap pengadaan oleh PLN dan ditargetkan COD pada 2031.
Selain itu, terdapat potensi panas bumi di Banda Baru di Pulau Seram yang dapat dikembangkan menjadi PLTP 25 MW sesuai hasil survei oleh Badan Geologi dan akan ditawarkan dalam market sounding oleh Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM pada April 2025.
Baca Juga
PGE Jajaki Pengembangan Panas Bumi di Kenya Gandeng BUMN Setempat
Saat ini, sistem kelistrikan di Maluku masih bergantung pada pembangkit berbasis energi fosil. Berdasarkan data 2024, total kapasitas pembangkit listrik di wilayah ini mencapai 409 MW. Dari jumlah tersebut, sekitar 99% atau 406 MW masih berasal dari sumber fosil, yakni pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) serta kombinasi pembangkit berbahan bakar gas dan uap (PLTG, PLTGU, dan PLTMG).
PLTD menjadi penyumbang kapasitas terbesar dengan 249 MW atau sekitar 61% dari total kapasitas, disusul pembangkit berbasis gas dan uap yang menghasilkan 157 MW atau 38%. Sementara itu, kontribusi energi baru terbarukan masih sangat terbatas, hanya sekitar 3 MW atau kurang dari 1%, terdiri atas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 3 MW dan pembangkit listrik tenaga air atau mikrohidro sebesar 0,1 MW.

