IHSG Bakal Tembus 8.000!
JAKARTA, investortrust.id - PT Maybank Sekuritas Indonesia (Maybank Sekuritas) memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus level 8.000 hingga akhir 2024.
"Faktor pendorongnya antara lain The Fed yang mulai nurunin suku bunga dantekanan inflasi yang mereda,” kata Presiden Direktur Maybank Sekuritas, Wilianto Le saat ditemui usai peluncuran Maybank Trade ID di Jakarta, Rabu, (10/7/2024).
Baca Juga
IHSG pada perdagangan hari ini (Rabu, 10/7/2024) ditutup di level 7.287, menguat tipis 17,2 poin (0,24%). Selama tahun berjalan (year to date/ytd), IHSG menguat 0,2%, salama sebulan naik 5,6%, dan selama sepekan meningkat 2,3%.
Wilianto mengakui, jika Bank Sentral AS, The Fed, menurunkan Fed funds rate (FFR), Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak akan serta-merta memangkas BI-Rate. Namun, BI tetap akan mengikutilangkah The Fed menurunkan suku bunga acuan.
The Fed saat ini mematok FFR di level 5,25-5,50%, sedangkan BI menahan BI-Rate di posisi 6,25%. The Fed digadang-gadang mulai menurunkan suku bunga acuan pada pengujung tahun ini.
“Mungkin BI nggak barengan The Fed menurunkan suku bunga. Tapi BI-Rate akan turun, sehingga tekanan terhadap rupiah akan mereda. Dengan begitu pula, perekonomian kita akan recover,” tutur Wili.
Dia menambahkan, sejumlah indikator ekonomi bakal mendukung pergerakan IHSG ke depan. Salah satunya pertumbuhan kredit perbankan. “Pertumbuhan kredit sudah bagus dan lebih cepat dari pada pertumbuhan deposito. Ini sinyal yang bagus,” ujar dia.
Meski demikian, menurut Wilianto, likuiditas perbankan hingga 2-3 tahun ke depan diperkirakan masih ketat, sehingga bakal memberikan tekanan terhadap penyaluran kredit.
Wili menjelaskan, banyak saham di BEI yang saat ini valuasinya sangat rendah, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Pertamina Gas Negara (PGAS), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR).
Baca Juga
"Contohnya saham perkebunan sawit. Even orang tidak suka saham sawit karena banyak isu negatif yang diembuskan non-governmental organization (NGO), sehingga harganya turun,” papar dia.
Valuasi saham emiten sawit, kata Wili, sudah sangat rendah. “Sekarang kamu beli saham sawit, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) atau PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), pasti lebih murah dibanding kamu bikin kebun sawit sendiri," tandas dia.
