AI Jawab Soal Agama, Wamenkomdigi Ingatkan Risiko Bias dan Menyesatkan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan untuk menjawab pertanyaan keagamaan masyarakat melalui platform digital. Teknologi ini dinilai dapat membantu akses informasi agama menjadi lebih cepat dan mudah.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan bahwa penggunaan AI pada isu agama harus dilakukan secara hati-hati. Hal ini terutama berkaitan dengan kualitas data yang digunakan untuk melatih sistem AI.
Menurutnya, tanpa pelatihan data yang akurat, AI berisiko menghasilkan jawaban yang bias dan menyesatkan. Risiko ini semakin besar karena topik agama termasuk isu yang sensitif di masyarakat.
“Untuk Aiman dan Aisha ini, kalau data-datanya tidak di-training dengan baik, dapat memberikan hasil yang melenceng dari kaidah agama,” jelas Nezar saat peluncuran platform AI keislaman Aiman dan Aisha di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga
Adopsi AI Tembus 92%, Pemerintah Jadikan Kecerdasan Buatan Pilar Produktivitas Nasional
Nezar juga mengapresiasi pengembang yang menyiapkan sistem penapis untuk pertanyaan sensitif. Dengan mekanisme ini, AI akan menyarankan pengguna untuk berkonsultasi langsung dengan ustaz atau ahli agama.
“Ini bagus, jadi sudah ada semacam penapis risiko untuk pertanyaan yang sensitif dan agak kritis, langsung dia akan menyarankan bertanya kepada Ustaz dan lain-lain,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus LAZISMU PP Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujaddid Rais, menilai platform ini relevan dengan kebiasaan generasi muda yang mencari jawaban agama di internet.
“Kehadiran Aiman dan Aisha memperkaya khazanah Islam di masyarakat untuk melahirkan pemahaman agama yang harmonis,” kata Ahmad. Ia juga mendorong agar platform tersebut dilengkapi rujukan kitab dan fatwa ulama agar informasi yang diberikan semakin akurat.

