CSIS Dorong Rapor Pendidikan Jadi Instrumen Akuntabilitas dan Perbaikan Mutu Pendidikan
JAKARTA, Investortrust.id -- Wakil Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Medelina K Hendytio mengungkapkan masalah mutu pendidikan di Indonesia bersifat struktural dan mendesak untuk segera diperbaiki. Temuan tersebut disampaikan Wakil Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Medelina K Hendytio, dalam diskusi bertajuk "Pemanfaatan Rapor Pendidikan sebagai Instrumen Monitoring Mutu Pendidikan Dasar dalam Kerangka RUU Sisdiknas" di Auditorium CSIS, Jakarta, Kamis (30/10/2025).
"Temuan rapor pendidikan menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Indonesia bersifat struktural, ada ketimpangan antar daerah, sebagian wilayah jauh tertinggal dalam mutu, karena keterbatasan fiskal, infrastruktur, dan ketersediaan guru," kata Medelina dalam paparannya.
Hasil pemetaan juga menunjukan beberapa temuan kunci. Meskipun rapor pendidikan telah tersedia, masih terdapat kesenjangan antara data dan implementasi di lapangan.
"Jauhnya antara data dan implementasi gitu ya, kita sudah mempunyai data, tetapi data itu akan bermanfaat ketika kemudian dilakukan intervensi pembelajaran. Biasanya data berhenti sebagai laporan, bukan perubahan praktik di tingkat kelas," ucapnya.
Dalam paparannya, Medelini menyampaikan beberapa temuan terkait capaian mutu. Salah satunya masih rendahnya inklusivitas di hampir seluruh daerah. Hal tersebut disinyalir karena sekolah masih kesulitan mengakomodasi pendidikan inklusif dan maraknya persoalan perundungan dan kekerasan.
"Inklusivitasnya itu hampir di semua daerah kuning gitu ya," ujarnya.
Temuan lainnya, yakni masih lebih rendahnya capaian kompetensi numerasi dibanding literasi. Dalam temuannya, capaian numerasi secara umum masih 'kuning' atau sedang. Medelina menduga hal ini karena inovasi pembelajaran lebih banyak diterapkan untuk literasi daripada numerasi.
"Mungkin kita semua perlu memikirkan juga atau mungkin bapak ibu bisa sharing metode-metode inovatif seperti apa untuk mendorong numerasi kita itu hasilnya menjadi lebih baik," tuturnya.
Selain itu, CSIS juga menemukan kualitas sistem pembelajaran yang secara nasional rata-rata masih dalam kategori kuning. CSIS juga menyoroti akreditasi pendidikan anak usia dini (PAUD) yang mayoritas diselenggarakan oleh pihak swasta didominasi kategori kuning.
"PAUD ini yang akreditasi B itu masih sedang bahkan kurang di beberapa daerah masih merah, ini karena memang banyak PAUD itu lebih diselenggarakan oleh swasta gitu ya, dan persoalan-persoalan kualifikasi, pengajar, sarana dan itu berimplikasi pada mutu PAUD-nya," ujarnya.
CSIS merekomendasikan agar rapor pendidikan benar-benar digunakan sebagai instrumen akuntabilitas publik dan dasar perbaikan mutu yang berkelanjutan. Selain itu, RUU Sisdiknas perlu mengaitkan rapor pendidikan dengan alokasi pendanaan, pendidikan guru, dan intervensi PAUD.
Medelina juga menegaskan evaluasi pendidikan harus bersifat reflektif dan memperkuat peningkatan mutu secara berkelanjutan, bukan sekadar pemenuhan formalitas.

