Indef: Petani Sawit Butuh Dukungan Pembiayaan dan Pelatihan untuk Penuhi Standar EUDR
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Mayoritas petani kecil sawit di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi standar keberlanjutan European Union Deforestation Regulation (EUDR). Berdasarkan hasil kajian teranyar Institute for Development of Economics and Finance (Indef), sebanyak 61,6% petani kecil membutuhkan dukungan dari sisi pembiayaan, sementara 36,4% membutuhkan pelatihan teknis.
Peneliti Associate Indef Afaqa Hudaya mengungkapkan, kebutuhan tersebut mencerminkan masih terbatasnya kapasitas modal dan pengetahuan teknis petani dalam memenuhi tuntutan EUDR, seperti pemetaan geolokasi, legalisasi lahan, dan sertifikasi.
“Ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kebutuhan utama petani kecil sawit kita itu adalah mereka sangat butuh dukungan dari sisi pembiayaan atau financing. Hal ini masuk akal, mengingat sebagian besar petani sawit mandiri ini memiliki pendapatan di bawah Rp 5 juta per bulan,” ujarnya secara daring, dalam diskusi Indef ‘Memperkuat Daya Saing Petani Kecil dalam Kerangka EUDR untuk Sawit Berkelanjutan,” Selasa (14/10/2025).
Baca Juga
Indef Sebut 5 Strategi Ini Bisa Perkuat Daya Saing Petani Kecil Sawit
“Mereka ini (petani), tidak memiliki tabungan maupun akses kredit formal. Jadi aspek dukungan finansial ini benar-benar sangat dibutuhkan. Selain juga aspek pelatihan yang besar 36%,” sambung Afaqa.
Ia menjelaskan, aspek pelatihan juga tak kalah penting mengingat masih banyak petani yang belum memahami standar keberlanjutan yang ditetapkan dalam EUDR. Menurutnya, pelatihan berkelanjutan dapat meningkatkan kapasitas petani dalam pengelolaan lahan, produktivitas, dan kepatuhan terhadap regulasi internasional.
Afaqa menyatakan, dukungan pembiayaan dan pelatihan sangat penting dimiliki oleh petani untuk beradaptasi dengan tuntutan EUDR. Dengan persentase dukungan kebutuhan pembiayaan yang mencapai 61,6% dan pelatihan 36,4%, mencerminkan masih terbatasnya kapasitas modal dan pengetahuan teknis petani dalam memenuhi standar keberlanjutan.
Baca Juga
Mentan Amran Tindak 2.039 Kios Pupuk Curang, Rugikan Petani Rp 600 Miliar per Tahun
Menariknya, kebutuhan terhadap dukungan teknologi masih sangat rendah, hanya sekitar 1,89%. Hal ini menunjukkan bahwa petani masih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar sebelum mampu mengadopsi inovasi digital.
“Karena itu, strategi memperkuat daya saing petani kecil harus diarahkan pada pembiayaan transisi hijau, program pelatihan berkelanjutan, dan penyediaan teknologi sederhana agar mereka dapat bertransformasi menjadi bagian aktif dari rantai pasok sawit global yang berkelanjutan,” ucap Afaqa.

