Nasib Whoosh: Di Ujung Tanduk?
Oleh Yohanis Elia Sugianto
Imam Keuskupan Agung Merauke serta kandidat Master Filsafat di STF Driyarkara.
JAKARTA, investortrust.id – Proklamasi pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa APBN tidak akan digunakan untuk melunasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) merupakan sebuah momen krusial yang secara fundamental mengkalibrasi ulang masa depan proyek tersebut. Pernyataan ini bukan sekadar kebijakan fiskal, melainkan sebuah penegasan ideologis untuk mengembalikan proyek ke khitah awalnya sebagai inisiatif business-to-business (B2B). Namun, dihadapkan pada realitas finansial yang ada—dimana pendapatan operasional jauh dari cukup untuk menutupi kewajiban utang—pertanyaan yang muncul bukanlah lagi apakah Whoosh akan untung, tetapi bagaimana ia akan bertahan. Menganalisis kondisi ini, kesimpulannya bukanlah bahwa nasib Whoosh berada di ujung tanduk keruntuhan operasional, melainkan di ambang sebuah periode restrukturisasi finansial radikal dan ketergantungan jangka panjang pada ekosistem BUMN.
Paradoks Keberhasilan Operasional dan Kegagalan Finansial
Secara operasional, Whoosh dapat dikategorikan sebagai sebuah keberhasilan. Proyek ini berhasil menjawab keraguan publik terkait potensi pasarnya. Dengan rata-rata penumpang harian yang konsisten di angka 18.000 hingga 22.000 orang, bahkan melampaui prediksi awal, Whoosh menunjukkan adanya permintaan riil terhadap moda transportasi massal yang efisien di koridor Jakarta-Bandung. Keberhasilan ini menciptakan sebuah anomali: sebuah layanan publik yang sangat diminati namun secara komersial tidak berkelanjutan.
Di sinilah letak paradoks utamanya. Pendapatan kotor tahunan dari penjualan tiket, yang diestimasi sekitar Rp1,5 triliun, secara matematis tidak mampu menandingi beban bunga utang tahunan yang diperkirakan melebihi Rp2 triliun. Angka ini bahkan belum memperhitungkan biaya operasional, perawatan (O&M), dan depresiasi aset yang nilainya sangat besar. Akibatnya, setiap tiket yang terjual, meskipun menyumbang pada pendapatan, secara bersamaan juga memperbesar lubang defisit operasional yang harus ditambal oleh PT KCIC. Dengan demikian, metrik kesuksesan tradisional seperti tingkat okupansi menjadi bias jika tidak disandingkan dengan analisis arus kas bersih. Kegagalan finansial ini bukanlah sebuah kemungkinan, melainkan sebuah realitas akuntansi yang sedang berlangsung, yang tecermin dari kerugian signifikan yang diserap oleh PT KAI sebagai induk konsorsium.
Ilusi Penyelamatan oleh Non-Farebox Revenue
Dalam narasi penyelamatan finansial Whoosh, pendapatan di luar tiket (non-farebox revenue), terutama dari Transit-Oriented Development (TOD), selalu disebut sebagai solusi pamungkas. Secara konseptual, strategi ini valid dan telah terbukti berhasil pada banyak sistem kereta cepat di dunia. Pengembangan properti residensial, pusat komersial, dan ruang ritel di sekitar stasiun memang berpotensi menciptakan aliran pendapatan jangka panjang yang stabil dan masif.
Namun, terdapat kekeliruan fatal jika menganggap TOD sebagai solusi jangka pendek. Pertama, pengembangan TOD adalah proyek padat modal yang membutuhkan investasi awal sangat besar dan waktu bertahun-tahun sebelum menghasilkan arus kas positif yang signifikan. Dana untuk membangun "kota-kota baru" di sekitar stasiun Halim atau Tegalluar tidak akan muncul begitu saja; ia memerlukan investasi baru yang mungkin sulit didapat mengingat profil risiko finansial KCIC saat ini. Kedua, kesuksesan TOD sangat bergantung pada faktor eksternal seperti kondisi pasar properti, kebijakan tata ruang pemerintah daerah, dan pembangunan infrastruktur pendukung. Menggantungkan pembayaran utang yang jatuh tempo dalam waktu dekat pada pendapatan properti yang baru akan terealisasi satu dekade mendatang adalah sebuah pertaruhan berisiko tinggi. Oleh karena itu, non-farebox revenue lebih tepat dipandang sebagai strategi keberlanjutan jangka panjang, bukan sebagai instrumen penyelamatan dari krisis utang jangka pendek.
Beban Sistemik pada Ekosistem BUMN
Penolakan penggunaan APBN secara efektif melimpahkan beban finansial Whoosh ke pundak BUMN yang terlibat, dengan PT KAI sebagai penanggung jawab utama. Keputusan ini menciptakan risiko sistemik baru dalam ekosistem BUMN. PT KAI, yang memiliki mandat sebagai operator layanan publik untuk kereta api konvensional (termasuk kelas ekonomi yang disubsidi), kini harus mengalokasikan sumber dayanya yang terbatas untuk menopang proyek komersial yang merugi.
Dalam jangka menengah, "pendarahan" finansial dari KCIC dapat mengganggu kesehatan keuangan KAI secara keseluruhan. Hal ini dapat berdampak pada kemampuannya untuk berinvestasi pada peningkatan layanan kereta api lainnya yang melayani segmen masyarakat lebih luas, atau bahkan memaksanya untuk menaikkan tarif pada layanan yang sudah ada untuk melakukan subsidi silang. Dengan demikian, narasi "tanpa APBN" menjadi sedikit menyesatkan. Meskipun tidak ada dana langsung dari kas negara, pada akhirnya sumber daya milik negara—yang terakumulasi dalam BUMN—tetap digunakan untuk menalangi proyek ini. Ini bukanlah penghapusan beban dari negara, melainkan transfer beban dari neraca pemerintah ke neraca BUMN.
Bukan di Ujung Tanduk, Tetapi di Ruang Perawatan Intensif
Menyimpulkan bahwa nasib Whoosh berada di ujung tanduk adalah sebuah penyederhanaan yang berlebihan. Proyek ini tidak akan berhenti beroperasi. Nilai strategisnya, ditambah dengan komitmen politik dan minat publik yang tinggi, akan memastikan roda kereta tetap berputar.
Namun, nasib finansialnya jelas berada dalam kondisi kritis—bagaikan pasien di ruang perawatan intensif. Kelangsungan hidupnya tidak bergantung pada kemampuannya untuk sembuh dengan cepat (mencetak laba), melainkan pada dukungan alat-alat penunjang kehidupan (life support). "Alat penunjang" ini akan datang dalam tiga bentuk: pertama, suntikan likuiditas berkelanjutan dari induk BUMN yang bertindak sebagai donor; kedua, keberhasilan negosiasi restrukturisasi utang dengan CDB untuk memperpanjang napas finansialnya; dan ketiga, percepatan pengembangan ekosistem ekonomi di sekitar stasiun sebagai harapan pemulihan jangka panjang. Nasib Whoosh bukanlah antara hidup atau mati, melainkan antara ketergantungan finansial abadi atau sebuah jalan pemulihan yang sangat panjang dan terjal.

