The Habibie Center: Petisi Civitas Akademika Bentuk Kepedulian Intelektual
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center Dewi Fortuna Anwar merespons petisi civitas akademika dari berbagai kampus di Indonesia yang mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dewi mengatakan petisi tersebut merupakan bentuk kepedulian intelektual di tengah kondisi demokrasi.
“Seorang intelektual itu harus punya kepedulian sehingga tak mengherankan kampus-kampus berbicara,” kata Dewi saat diskusi publik Pasca Debat Capres dan Peluncuran Rekomendasi Kebijakan Habibie Democracy Forum 2023 di kantornya, Jakarta, Selasa (06/02/2024).
Dewi justru merasa heran jika kampus tidak mau menyuarakan kegelisahannya. Sebab, kata dia, demokrasi Indonesia mengalami regresi sejak 2018.
Baca Juga
Pakar: Visi dan Misi Ekonomi Paslon Capres-Cawapres Akan Sulit Terlaksana
“Akan aneh kalau kampus diam,” ujar dia.
Indikasi penurunan demokrasi Indonesia tersebut sudah mulai ditunjukkan dalam penelitian Jeffrey Winters berjudul Oligarki. Buku yang ditulis pada 2011 itu mengupas politik Indonesia yang oligarki.
“Tapi itu hanya political scientist yang berbicara. Para ekonom masih senang-senang saja. Sama dengan Orde Baru dulu, orang political scientist ribut, yang ekonom bilang ‘bagus’,” kata dia.
Meski demikian, Dewi merasa lega beberapa pakar yang sebelumnya terlihat tenang-tenang saja, kini mulai menunjukkan kekhawatiran mengenai ancaman kemunduran demokrasi. “Begitu dengar berbagai kasus, baru bangun. Alhamdulillah. Better late than never,” ucap dia.

