Kadin: Oknum Ormas yang Ganggu Usaha Dipastikan Rugikan Pekerja
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Taufan Eko Nugroho, memberikan respons perihal adanya dugaan atas tindakan premanisme oleh oknum organisasi masyarakat (ormas) yang mengganggu iklim usaha. Menurut Taufan praktik oleh oknum tersebut merugikan tidak hanya pelaku usaha, melainkan para pekerja.
"Rekan-rekan kita yang mungkin kurang tepat membawakan dirinya sebagai ormas yang menghambat kegiatan usaha, yang dirugikan tidak hanya usaha itu sendiri tapi para pekerja, vendor-vendor, partner-partner, konsumen pun juga ikut terganggu," katanya kepada awak media usai menghadiri Halalbihalal MUI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Taufan meyakini tindakan premanisme tersebut hanya dilakukan oleh segelintir oknum yang mengatasnamakan diri sebagai ormas. Menurutnya apabila merujuk pada aturan perundang-undangan, terdapat banyak ormas yang justru memiliki manfaat terhadap kehidupan berbangsa. Ia mencontohkan bagaimana ormas-ormas Islam yang tergabung bersama MUI, bersepakat untuk mendukung program pemerintahan.
"Mungkin memang ada oknum-oknum yang mengatasnamakan ormas mengganggu kegiatan usaha, tentu itu tidak akan baik bagi masyarakat bangsa bagi pencitraan bangsa, apalagi yang digang tidak hanya kami (pengusaha lokal), tapi juga pengusaha yang telah investasi dari luar negeri ke sini," ujarnya.
"Suasana global saat ini kurang mendukung terhadap pencapaian cita-cita tersebut, tapi kami yakin bahwa ini bisa dicapai ketika kita bersatu padu, berusaha bersama, tolong kita kompak, apa yang bisa kita lakukan bersama-sama," ungkapnya.
Diketahui kabar adanya gangguan dari organisasi masyarakat (ormas) berbentuk premanisme pada pabrik perusahaan mobil listrik asal China itu sebelumnya disampaikan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno.
Dilansir Antara, Eddy mengungkap pembangunan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat sempat diganggu ormas berbentuk aksi premanisme. Kabar ini didapatkan Eddy saat memenuhi undangan Pemerintah China dalam rangkaian kunjungan di Shenzhen, China.
“Sempat ada permasalahan terkait premanisme ormas yang mengganggu pembangunan dari sarana produksi BYD. Pemerintah perlu tegas untuk kemudian menangani permasalahan ini, jangan sampai investor datang ke Indonesia dan merasa kemudian tidak mendapatkan jaminan keamanan, hal yang paling mendasar bagi investasi untuk masuk ke Indonesia,” imbuh Eddy melalui unggahan video di Instagram.
Investasi besar BYD di kota mandiri terintegrasi untuk kawasan industri dan komersil di Indonesia, Subang Smartpolitan, diprediksi akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi yang signifikan di Indonesia. Dikabarkan BYD menggelontorkan investasi hingga Rp 11,7 triliun.

