Percepatan Bauran EBT di Sektor Transportasi Belum Optimal
JAKARTA, Investortrust.id - Bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru mencapai 12,54% dan masih jauh dari target tahun 2023 yakni 17,87%. Transportasi dinilai menjadi sektor yang belum optimal dari sisi bauran energi.
Suharyati dari Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) menjelaskan lambatnya bauran EBT di sektor transportasi menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil.
Baca Juga
Target Bauran EBT 2023 dan 2025 Sulit Tercapai, Ini Penyebabnya
"EBT baru 12,54%, berarti 87% masih bahan bakar fosil. Transportasi paling banyak bergantung, itu masalah nomor 1," kata Suharyati dalam diskusi 'Indonesia Energy Transition Outlook 2024: Outlook Kebijakan Energi saat Ini terhadap Capaian Transisi Energi Indonesia' yang digelar IESR secara daring, Selasa (12/12/2023).
Masalah itu diperparah dengan pemberian subsidi untuk pembelian bahan bakar fosil oleh pemerintah. Transisi ke EBT menurutnya akansulit jika pemberian subsidi masih diberlakukan.
"BBM (bahan bakar minyak) jadi agak sulit berubah ke EBT di transportasi sulit. Lalu etanol sendiri belum berjalan, untuk produksi etanol masih mahal. Harga etanol dibanding bensin masih lebih mahal etanol, harga tidak bersaing sehingga sulit untuk mengubahnya," ucapnya.
Baca Juga
Pembahasan RUU EBET Tak Bisa Selesai sebelum Pemilu 2024, Kenapa?
Sementara itu Analis EBT dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Pintoko Aji menilai minimnya regulasi yang bersifat mandatory dan actionable membuat bauran EBT pada transportasi tidak berjalan optimal.
"Perlu diberlakukan regulasi yang actionable, bentuknya mandat percepatan EV (Electric Vehicle) yang harus dilakukan masyarakat maupun industri, dua sektor itu masih minim mandat, minim cara mendekarbonisasi, belum ada larangan," tuturnya. CR-14

