Diaspora Asal Lembata Berduka atas Meninggalnya Doni Monardo
JAKARTA, investortrust.id - Warga diaspora asal Lembata, Nusa Tengggara Timur (NTT) sedunia menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI (Purn) Doni Monardo. Diaspora Lembata yang tergabung dalam grup Whatsapp Ata Lembata mengenang Doni sebagai sosok yang berjasa dalam membantu korban banjir bandang melanda Lembata pada awal April 2021.
“Atas nama forum diskusi online Ata Lembata, saya menyampaikan rasa dukacita mendalam berpulangnya Bapak Doni Monardo, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana,” ujar admin grup Ata Lembata Dr Justin L Wejak melalui keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu (3/12/2023).
Baca Juga
Justin yang merupakan dosen kajian Indonesia di The University of Melbourne, Victoria, Australia menuturkan, saat banjir bandang melanda sebagian desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Lembata dan di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Minggu (4/4/2021), Doni segera membantu para korban.
Doni bersama rombongan tiba di Lewoleba, kota Kabupaten Lembata pada 6 April 2021 dan langsung turun menemui korban. Doni memantau lokasi banjir untuk mengambil langkah tanggap darurat.
Doni melihat langsung korban banjir di Adonara dan menyaksikan sejumlah desa porak poranda dihantam banjir. Beberapa desa di Adonara yang terdampak banjir itu, yakni Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur. Kemudian Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado serta Desa Waiwadan dan Duwanur di Kecamatan Adonara Barat.
BNPB mencatat, sebanyak 54 orang ditemukan meninggal dunia dalam bencana tersebut. Doni juga turun langsung membantu korban bencana banjir lahar Gunung Ile Lewotolok di Desa Ile Ape dsn Ile Ape Timur. Sebanyak 19 orang dan 48 warga lainnya hilang dalam bencana tersebut.
Untuk itu, Justin mengatakan, warga Lembata mengenang Doni Monardo sebagai duta kemanusiaan yang hadir di tengah penderitaan warga untuk memberikan penghiburan, kekuatan, dan pengharapan melalui bantuan-bantuan sembilan bahan pokok (sembako), obat-obatan, dan kebutuhan lainnya untuk korban bencana.
“Masyarakat Lembata, khususnya warga terdampak bencana banjir dan longsor menyusul erupsi gunung Ile Lewotolok tentu mengenang Pak Doni sebagai duta kemanusiaan. Beliau hadir untuk berbagi kasih. Semoga almarhum dibukakan pintu Surga atas kasih dan perhatiannya selama hidup, termasuk orang-orang terkasih di lewotana, leuawuq (kampung halaman) Lembata saat wilayah utara Lembata dilanda erupsi. Rest in love and peace,” kata Justin.
Admin Ata Lembata lainnya, Ansel Deri juga menyampaikan duka atas berpulangnya Doni Monardo. Ansel menilai Doni merupakan tipikal jenderal yang energik dan sangat gesit saat mengemban tugas sebagai kepala BNPB
Berbagai bencana yang melanda NTT baik di Timor dan pulau-pulau lain di tanah Flobamora membuat Doni bolak-balik Jakarta-NTT atas nama pengabdian dan tanggung jawab kepada warga korban bencana alam.
“Sebagai sesama warga bangsa, Indonesia kehilangan sosok Pak Doni Monardo, seorang jenderal pekerja keras. Saya mencatat baik kehadiran Pak Doni Monardo bersama tim bersama pimpinan TNI-Polri serta kementerian dan lembaga di lokasi bencana baik di Lembata maupun Flores Timur, Ini sungguh tugas berat yang selalu dijalani dengan hati,” ujar Ansel Deri.
Jurnalis yang menjadi editor buku Membangun Tanpa Sekat ini mengatakan, setelah kunjungan Doni Monardo di Flores Timur dan Lembata, Presiden Jokowi juga tak lama berselang mengunjungi Lembata dan Adonara. Kunjungan Jokowi di Lembata malah mengantar kepala negara melihat langsung lokasi bencana alam dan menunaikan salat Jumat di Desa Amakaka, Ile Ape.
“Kehadiran Bapak Presiden Joko Widodo sekaligus salat Jumat di kampung Amakaka dan kehadiran Bapak Doni Monardo melihat langsung korban erupsi Ile Lewotolok adalah sejarah kolektif kami ribu ratu (rakyat) di lewotana, leuawuq (kampung halaman),” ujar Ansel.
Warga Ata Lembata lainnya, Marianus Wilhelmus Lawe Wahang juga tak dapat membendung kesedihan saat mendengar kabar meninggalnya Doni Monardo.
Yohanes Baran Waru Wahang (78), ayah dari Marianus Wilhemus menjadi salah seorang korban erupsi Ile Lewotolok.
“Separuh badan bapa saya terkubur dalam banjir lahar dingin dan lumpur batu menyapu segala sesuatu di depan rumah kami di Lamawolo. Tulang pantat dan kaki kiri bapa saya patah. Remuk. Bapa saya baru berhasil dievakuasi ke Lewoleba setelah akses jalan dari Lewoleba menuju Lamawolo diterabas alat berat," ujar Lawe.
Menurut Lawe, saat ayahnya dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba, Doni Monardo juga menyambangi para pasien korban banjir lahar, tak terkecuali ayahnya. Sang ayah mengalami retak tulang belakang pantat dan kaki kirinya patah akibat tertimpa batu besar.
"Saya jatuh air mata saat diberitahu kalau Pak Doni Monardo mengunjungi bapak saya dan sempat mengobrol untuk menghiburnya. Beliau bahagia sekali dilihat juga Pak Doni. Meski beliau sedang menahan rasa sakit, tetapi sangat terhibur. Karena itu beliau menolak saat diberitahu kakinya mau dipotong (amputasi). Beliau memilih memikul sakitnya sebagai Salib sampai ajal menjemput. Ayah saya bersama Pak Doni tentu sudah bahagia di Surga,” ujar Lawe.

