Gen Z Keluhkan Harga Rumah, Ganjar Beri Solusi Ini
JAKARTA, investortrust.id - Capres nomor urut 03 Ganjar Pranowo dicecar berbagai keresahan kalangan gen Z saat menghadiri RISE 2024 oleh Generasi Perintis di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Minggu (14/01/2024). Salah satu keluhan terkait akses pembelian rumah atau hunian yang kerap menjadi permasalahan bagi kalangan gen Z.
Dea Salsabila, salah seorang anak muda dari kalangan gen Z berbagi keresahannya terkait akses hunian. Kepada Ganjar, Dea menjelaskan sulitnya anak muda mendapatkan hunian.
"Berdasar indeks harga properti residensial Bank Indonesia, kenaikan harga (hunian) itu 39,7% setiap tahunnya. Tidak berbanding lurus dengan kenaikan harga UMR. Bagaimana strategi Bapak atas persoalan ini? Bagaimana juga dengan adanya program rumah kita sebanyak 10 juta itu dapat efektif dan tepat sasaran?”, tanya Dea.
Menjawab keresahan tersebut, Ganjar mengungkapkan rencananya pembangunan rusunawa sebagai salah satu solusi. "Kamu tinggal di rumah susun oke gak? Oke ya? Selesai. Itu jawabannya," ungkap Ganjar.
Ia menambahkan saat ini timnya sedang menyusun kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan rusunawa bagi kelompok muda dan masyarakat dengan pendapatan menengah. Menurut Ganjar, masyarakat dengan pendapatan jumlah tertentu perlu mendapatkan fasilitas baik dalam bentuk subsidi ataupun kepemilikan rumah dengan model rusunawa.
Baca Juga
"Saya tanyakan dulu tadi, kamu kalau tinggal di rumah susun itu kira-kira oke apa enggak? Tapi yang perlu kita pikirkan adalah jenis rumah susunnya. Seringkali gak nyaman, ya kan? Kotor, jorok. Padahal di banyak negara maju super blok itu sudah menjadi tempat yang sangat biasa," tutur Ganjar.
Selain rusunawa, Ganjar menyebutkan pembangunan perumahan subsidi dapat menjadi salah satu alternatif. Ia mengaku telah berkonsultasi dengan tim perihal tersebut.
"Maka pembangunan perumahan yang sekarang backlog-nya banyak sekali, mesti kita kejar. Tapi, saya pernah konsultasi juga, untuk kemudian bisa didesainkan rumah yang murah dan kemudian bisa menampung lebih banyak. Saya hitung tadi anak-anak muda atau pasangan muda itu mau desain (hunian) seperti apa," papar Ganjar.
Program Tukul Lemah Oleh Omah
Menjawab permasalahan kebutuhan hunian di desa, Ganjar mengaku akan meniru apa yang sudah ia lakukan di Jawa Tengah. "Kami pernah membuat program namanya beli tanah dapat rumah. Karena waktu itu di Jawa Tengah maka pakai bahasa Jawa, tuku lemah oleh omah,"
Ia menjelaskan melalui program tersebut masyarakat yang membeli tanah dapat dibantu oleh pemprov Jateng untuk dibangunkan rumah.
"Jadi tanahnya dari mereka, rumahnya yang bangun kita. Bentuknya mirip-mirip, subsidi. Tapi untuk ukuran yang lebih banyak, rasa-rasanya, pola-pola yang lain seperti model super blok yang bisa dihuni oleh banyak orang baik itu milik ataupun sewa, itu menjadi bridging yang pertama," pungkas Ganjar.
Baca Juga
Hasto PDIP Ungkap Banyak Pendukung Ganjar di Jateng dan Jatim Diintimidasi
