Kesenjangan Karier Ekstrem, Pemberdayaan Perempuan di Sektor Bisnis Terus Digencarkan
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan mengatakan bahwa saat ini, kesenjangan karier wanita Indonesia sangat ekstrem meskipun perannya semakin krusial dalam memajukan ekonomi keluarga dan negara.
“Ada wanita yang sangat berkualitas sebagai pengusaha, tapi juga ada yang bahkan tidak tahu cara berbicara, merawat diri, atau membantu keluarganya,” ujarnya dalam talkshow @amerika di Jakarta, Selasa (19/11/2024).
Mengingat sebagian besar dari perempuan di Indonesia terlibat dalam berbagai sektor ekonomi, khususnya bisnis dan kewirausahaan, Veronica menggarisbawahi pentingnya mendorong pemberdayaan perempuan agar menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan berdaya saing dalam segala bidang.
Ia juga berharap semakin banyak pengusaha wanita Indonesia yang tak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga tetapi juga punya andil besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negara.
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan Satgas Jejaring Advokasi Inklusi Keuangan Digital Perempuan
“Menyelamatkan satu wanita berarti menyelamatkan generasi. Inilah pentingnya kewirausahaan wanita, dan kita perlu belajar bagaimana memberdayakan mereka," jelasnya.
Tantangan yang Dihadapi Wanita dalam Berbisnis
Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Bank Jago yang juga Wakil Ketua Bidang Perbankan dan Jasa Keuangan Apindo Anika Faisal menyoroti sejumlah tantangan, mulai dari kesenjangan pendidikan yang lebar, stereotip gender, tanggung jawab ganda sebagai pengusaha sekaligus ibu rumah tangga, hingga kurangnya pengetahuan dalam mengelola bisnis dan keuangan.
"Bagi saya menjadi pengusaha wanita sangat sulit, terutama dalam konteks Indonesia, karena Anda harus bekerja selama 24 jam dalam 7 hari,” papar Anika.
Kendati demikian, ia mencermati perempuan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi pengusaha mandiri dan berdaya saing. Terlebih, perempuan memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan laki-laki dalam mengelola keuangan. Hal itu dibuktikan oleh hasil survei OJK tahun 2024, yang menunjukkan bahwa indeks literasi dan inklusi keuangan perempuan masing-masing sebesar 66,75% dan 76,0% lebih tinggi dibandingkan indeks literasi dan inklusi keuangan laki-laki masing-masing sebesar 64,14% dan 73,97%.
Baca Juga
Tantangan dan Peluang yang Dihadapi Perempuan dan Gen Z dalam Meniti Karier
“Meski secara data tingkat literasi keuangan sudah jauh membaik, tapi diperlukan lebih banyak kegiatan edukasi keuangan dan pendampingan usaha. Khususnya bagi perempuan di kalangan bawah, agar tak cuma bisa mengenali produk-produk keuangan beserta manfaat dan risikonya, tetapi juga cerdas dalam mengelola keuangan keluarga sehingga tidak terjerat utang yang berlebihan,” papar Anika.
Anika juga menekankan pentingnya setiap perempuan punya kepercayaan diri untuk mencoba dan tidak menyerah saat menghadapi berbagai tantangan bisnis yang berliku. “Dengan pendampingan dan pembinaan yang tepat, perempuan tak hanya sukses dalam membangun dan menumbuhkan usahanya secara berkelanjutan tetapi juga cepat menemukan solusi alternatif ketika menemukan hambatan,” terangnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Kepala Misi AS Heather C. Merritt menilai bahwa Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam hal memperluas literasi dan inklusi keuangan yang melibatkan perempuan.

