Tantangan dan Peluang yang Dihadapi Perempuan dan Gen Z dalam Meniti Karier
SURABAYA, investortrust.id - Tak dipungkiri bahwa mayoritas industri banyak didominasi pekerja laki-laki, termasuk di sektor hulu minyak dan gas (migas). Namun, hal itu juga tidak menutup peluang untuk perempuan berkarir di bidang ini.
Lalu, bagaimana agar perempuan dapat berhasil berkarier di industri migas?
Dalam diskusi bertajuk 'Wonder Women in Oil & Gas Industry' yang digelar di Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya pekan lalu, Mira Tripuspita, VP Business Support Pertamina Subholding Upstream Regional Jawa, memaparkan tantangan dan peluang yang dihadapi perempuan dan generasi Z untuk bisa berhasil berkarier.
Mira menyebutkan, salah satu tantangan pertama yang dihadapi perempuan di sektor migas adalah pekerjanya mayoritas laki-laki. Menurutnya, meskipun perusahaan memberikan kesempatan yang setara, banyak perempuan masih merasa terbebani oleh stigma dan pola pikir mereka sendiri.
"Yang terpenting adalah mindset. Perempuan harus percaya bahwa mereka memiliki kemampuan yang mumpuni. Sama dengan keterampilan yang dimiliki laki-laki," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (14/10/2024).
Mira juga menggarisbawahi pentingnya mengubah pandangan yang menyebutkan bahwa perempuan harus memilih antara perempuan bekerja atau ibu rumah tangga. "Mengapa kita harus terjebak dalam dikotomi ini? Perempuan bisa menjadi keduanya," tegasnya.
Baca Juga
Untuk mendorong lebih banyak perempuan memasuki industri ini, Mira menyebutkan bahwa Kementerian BUMN memiliki kebijakan yang menetapkan target minimum 20 persen untuk pemimpin perempuan. "Ini menunjukkan ada dorongan dari sistem untuk memberdayakan perempuanmenjadi pemimpin," jelasnya.
Namun, ia juga menyoroti bahwa di institusi yang fokus pada pendidikan teknik, hanya ada sekitar 20 persen mahasiswa perempuan. Artinya, ini menunjukkan perlunya adanya peningkatan partisipasi di bidang akademis.
Mira juga melihat peluang dalam industri migas sangat luas. Bagi perempuan, menurutnya dibutuhkan ketangguhan mental dan keinginan untuk berkompetisi. "Jika mereka memiliki mindset yang kuat, saya yakin mereka akan berhasil dan membawa perubahan positif dalam industri ini," ungkap Mira.
Di sisi lain, karakteristik generasi Z alias Gen Z sering kali terjebak dalam pola over thinking. Namun di sisi lain, Gen Z belum bisa menyeimbangkan ambisi dengan realita.
"Salah satu karakter Gen Z ini adalah banyak over thinking. Mereka punya ambisi tinggi, semua dipikir dan mau diraih. Mau ngopi setiap hari, tapi juga mau punya rumah. Mau healing pakai paspor, tapi ga punya uang," kata Mira, seorang profesional yang berpengalaman lebih dari 27 tahun di bidang ”human capital” atau sumber daya manusia dan juga seorang psikolog.
Di sisi lain sayangnya jika ambisi tinggi tidak tercapai, Gen Z mudah menyerah. Terkait dengan kesiapan Gen Z memasuki dunia kerja, Mira menekankan pentingnya menetapkan tujuan yang jelas berjangka panjang, minimal 10 tahun ke depan.
Sementara itu, Asisten Manager Communication Relations Pertamina Subholding Upstream Regional Jawa, Danya Dewanti, menyampaikan bahwa Gen Z juga perlu belajar untuk menyadari bahwa tidak semua ambisi atau impian akan berjalan mulus sesuai keinginan.
"Dalam hidup, kadang kita dihadapkan pada jalan buntu. Suka atau tidak suka kita harus menyesuaikan ambisi kita. Menerima kegagalan, belajar dari pengalaman, dan membuat tujuan baru," ujarnya.
Baca Juga
Memulai Karier, Gen Z Perlu Patahkan Stigma dan Sadari Realita
Gen Z dikenal rentan dengan fenomena FOMO (Fear of Missing Out/takut ketinggalan), FOPO (Fear of People’s Opinion/takut dengan opini orang lain) dan YOLO (You Only Live Once/kamu hanya hidup sekali).
"Gen Z perlu untuk belajar untuk memahami siapa diri mereka, berdialog dengan diri sendiri, dan berani untuk menjadi diri sendiri, tanpa harus takut pendapat orang lain dan khawatir ketinggalan. Dalam dunia kerja, Gen Z perlu siap untuk lebih tahan banting, tidak mudah menyerah," sebut Danya.
Lebih lanjut, Mira memberi tips untuk para mahasiswa. ”Untuk bisa produktif dan berhasil di segala hal, baik kuliah di kampus, dalam kehidupan pribadi, serta dunia kerja, kalian para Gen Z perlu bahagia. Ciptakan kebahagiaan kalian sendiri. Karena saya yakin, orang yang bahagia pasti akan produktif,” kata ia.

