Pengamat Politik Sebut Prabowo Hadirkan Kontinuitas dan Paradigma Baru dalam Pemerintahan
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya mengungkapkan bahwa situasi pasca pelantikan Presiden Prabowo Subianto menciptakan preseden baru dalam transisi kekuasaan di Indonesia.
Menurutnya, saat ini terjadi keberlanjutan atau kontinuitas antara rezim sebelumnya dengan pemerintahan baru. Berbeda dengan transisi kekuasaan sebelumnya yang sering diwarnai oleh rivalitas.
“Dulu, pergantian rezim dari Megawati ke SBY, lalu SBY ke Jokowi, poin paling penting yang berbeda dengan saat ini adalah sebelumnya kita tidak pernah melihat pergantian rezim yang disebut bagian dari keberlanjutan,” ujarnya, acara Wealth Wisdom 2024 yang digelar Permata Bank, di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Namun begitu, Yunarto mengatakan bahwa kontinuitas tersebut bukan berarti Prabowo akan sama dengan Jokowi. “Betul jika berbicara kontinuiti, tapi salah menurut saya kalau menganggap Prabowo adalah Jokowi. Ketika berbicara mengenai policy, dan prioritas sektor, Prabowo bukanlah Jokowi,” katanya.
Baca Juga
Paradigma Prabowo sebagai seorang pemimpin, lanjut dia, dapat ditemukan dalam bukunya yang berjudul Paradoks Indonesia. Buku itu telah menekankan pentingnya ketahanan mengenai pangan dan energi sebagai pilar utama kebijakan nasional.
Dikatakan Yunarto, hal ini tercermin dari alokasi anggaran pemerintah di 2025, di mana sektor pertahanan meningkat secara signifikan. Sektor pertahanan harus dapat alokasi anggaran yang besar karena Prabowo percaya jika ingin memenuhi hajat hidup orang banyak melalui pangan dan energi, pasti akan ada negara-negara super power yang tidak senang.
“Bagaimana kemudian memposisikan negara seperti Indonesia untuk tetap punya bargaining position, dia harus terus meningkatkan kemampuan alat utama sistem pertahanan (alutsista)-nya. Jadi jangan kaget kalau anggaran alutsista dalam paradigma seperti itu akan terus naik,” ucap Yunarto.
Baca Juga
Di Indonesia-Brazil Business Forum, Prabowo Dorong Sinergi Ekonomi 2 Negara
Sementara, sektor infrastruktur yang menjadi primadona di era Jokowi, akan mengalami penurunan alokasi anggaran sebesar 5,4%. Yunarto memandang, Prabowo kemungkinan tak akan sepenuhnya menggantungkan proyek infrastruktur pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Di lain sisi, ia juga mencermati langkah-langkah awal atau quick wins yang mulai terlihat dalam 100 hari pemerintahan Prabowo. Mulai dari langkah strategis seperti penguatan dalam pemberantasan korupsi, hingga aksi simbolis seperti penggunaan mobil Pindad yang dinilai mampu membangun citra positif di masyarakat.

