10 Hari Jelang Kampanye Pemilu 2024, Penjualan Atribut Pemilu Masih Lesu
JAKARTA, Investortrust.id - Masa kampanye Pemilihan Umum atau Pemilu 2024 mulai digelar 28 November 2023 atau tinggal 10 hari lagi. Nomor urut partai dan capres-cawapres peserta Pemilu 2024 juga telah ditetapkan KPU. Namun, penjualan atribut dan aksesori kampanye masih lesu dan belum bergairah.
Hal tersebut setidaknya terlihat di Blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (18/11/2023). Kondisi di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Ibu Kota tersebut memang ramai, terlebih pada saat akhir pekan seperti hari ini. Namun, kondisi di lantai 3 atau yang boleh dibilang surganya atribut dan aksesoris pemilu terpantau lengang.
Hanya beberapa toko yang didatangi segelintir pembeli. Bahkan, sebagian besar toko lainnya sepi dan tidak ada pembeli. Padahal, tinggal 10 hari masa kampanye pemilu dimulai, tetapi belum terlihat pergerakan yang massif dari tim kampanye para peserta pemliu.
Baca Juga
Jelang Kampanye, Pedagang Atribut Pemilu malah Harap-Harap Cemas, Ada Apa?
Salah seorang pedagang di Blok III Pasar Senen, Rini (40) mengungkapkan belum menerima pesanan atribut dan aksesoris dari tim kampanye mana pun. Padahal, kiosnya terbilang lengkap karena menjual berbagai atribut mulai dari kaus, jas, rompi, dan aksesoris pemilu lainnya, seperti kalender dan mug.
“Sampai sekarang belum. Biasanya sih (menjelang masa kampanye) itu ramai. Jika dibanding 2019, masih ramai tahun itu” terang Rini saat ditemui Investortrust.id di gerainya, Sabtu (18/11/2023).
Ia menilai, lesunya penjualan atribut kampanye mungkin saja dipengaruhi oleh masa kampanye Pemilu 2024 yang lebih singkat dibanding Pemilu 2019. Berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 15 Tahun 2023 tentang Kampanye Pemilu 2024, masa kampanye hanya berlangsung selama 75 hari. Sementara Pemilu 2019 masa kampanye berlangsung selama 6 bulan 3 minggu.
“Yang jelas kalau ramainya, lebih ramaian 2019. Mungkin ini karena kampanye waktunya cuma sebentar. Kalau dulu kan kayaknya 6 bulan kampanyenya, sekarang cuma sebentar dari November tahun ini sampai Februari tahun depan,” kata Rini.
Untuk itu, wanita yang telah berkecimpung di dunia penjualan atribut politik sejak tiga kali pemilu ke belakang ini pun tidak bisa memastikan omzet yang didapat pada masa kampanye pemilu kali ini.
Setali tiga uang, pedagang lain yang menjual atribut pemilu, Sukadi (63) mengamini jika hingga saat ini order atribut pemilu masih sepi. Dengan kondisi seperti sekarang, Sukadi cukup mengalami kesulitan, terlebih dalam menjalankan operasional bisnis.
“Kalau ramai, lebih ramai tahun lalu. Karena sekarang kan bahan-bahan sudah mulai mahal dan keuntungan sudah tipis,” ungkapnya.
Baca Juga
Dana Kampanye Caleg Mengucur, Kemenkeu Optimitistis Ekonomi Terdampak
Padahal, masa kampanye biasanya menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku yang bergerak di produksi dan penjualan atribut politik. Untuk itu, mereka bisa meraup keuntungan minimal dua kali lipat, bahkan bisa lebih.
“Ramainya yang pemilu saja. Ada peningkatan dua kali lipat, karena kalau pemilu kan istilahnya musiman,” katanya.
Selain Rini dan Sukadi, ada pula seorang pedagang atribut pemilu lainnya, yakni Lusi (44). Ia mengakui belum banyak tim kampanye yang membeli ataupun memborong barang dagangan di kiosnya.
“Belum ada, masih berangsur. Harusnya sudah lebih banyak yang order, tetapi sampai sekarang masih belum terlalu,” tuturnya.
Menurut Lusi, tim kampanye yang order atribut di tempatnya masih bisa dihitung dengan jari.
“Kalau di saya sejauh ini Partai Nasdem (paling banyak). Masing-masing beda toko, beda yang dapatnya,” jelasnya.
Ia pun tidak bisa memperkirakan apakah omzet atau keuntungannya di masa kampanye sekarang ini tinggi atau tidak. Hal ini mengingat masih lesunya permintaan.
“Kalau omzet kita enggak bisa nentuin, apalagi kalau kayak sekarang. Masih belum bisa kira-kira karena masih belum jalan,” terang Lusi. (CR-13)

