Telan Biaya Rp 4,1 Triliun, Bendungan Jenelata Sulses Ditargetkan Tuntas Tahun 2028
SEMARANG, investortrust.id - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan proyek Bendungan Jenelata di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), tuntas tahun 2028. Progress Pembangunan proyek senilai Rp 4,1 triliun sudah memasuki pengerjaan galian tubuh bendungan (main dam) dan area pelimpah (spillway).
Pembangunan Bendungan Jenelata bertujuan untuk mengoptimalkan pengendalian banjir di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan yang selama ini hanya mengandalkan Bendungan Bili-Bili berkapasitas 375 juta m3 yang telah dibangun pada 1997.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan bendungan dan embung sebagai tampungan air di berbagai wilayah Indonesia merupakan salah satu upaya nyata untuk mengatasi ancaman perubahan iklim (climate change), terutama menghadapi cuaca ekstrim.
Baca Juga
Telan Biaya Rp 1,83 Triliun, Bendungan Pamukkulu Sulsel Diresmikan Jokowi
"Untuk menghadapi ancaman perubahan iklim (climate change) pemerintah Indonesia harus memperbanyak tampungan air (reservoir), baik itu embung dan bendungan. Kita utamakan bendungan agar saat kemarau masih ada cadangan air yang besar. Dan di musim hujan, mampu menjadi tampungan yang efektif menahan debit banjir," kata Basuki dalam keterangan pers yang diterima di Semarang, Kamis (18/7/2024).
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Suryadarma Hasyim menambahkan, bendungan terbesar di Sulsel, yakni Bendungan Bili-Bili, sudah tidak memadai untuk menampung air sebagai pengendalian banjir ketika curah hujan tinggi, seperti yang terjadi pada 2019 yang berakibat terhadap banjir besar di Kota Makassar.
Oleh karena itu, lanjutnya, Bendungan Jenelata juga akan dimanfaatkan untuk menahan luapan air Sungai Jenelata yang berhilir ke Sungai Jeneberang, sehingga dapat membantu Bendungan Bili-Bili yang juga membendung hulu Sungai Jeneberang.
Baca Juga
PUPR Bangun 2 Bendungan Rp 9,2 Triliun di Kabupaten Bogor, Ini Tujuannya
"Kita berharap dengan fungsi dari Bendungan Jenelata akan lebih optimal untuk mereduksi banjir di Kota Makassar serta membantu saat kekeringan. Sehingga dengan adanya tampungan air ini, memberikan taman air ketika terjadi El Nino. Jadi, pada musim hujan kita cegah banjir, pada musim kemarau kita manfaatkan airnya untuk pertanian, suplai air baku, dan untuk kebutuhan masyarakat," tutur Suryadarma.
Sumber Irigasi
Selain sebagai pengendali banjir, menurut Suryadarma, Bendungan Jenelata juga berfungsi sebagai sumber air irigasi bagi lahan pertanian seluas 26.773 hektare (ha) yakni di Daerah Irigasi (D.I) Bili-bili 2.400 ha, D.I. Bissua 13.916 ha, dan D.I. Kampili 10.457 ha.
''Bendungan Jelenata juga berfungsi sebagai sumber penyediaan air baku berkapasitas 6,05 m3/detik untuk Bili-Bili, Jenelata, kebutuhan air pabrik gula dan lahan tebu di Takalar, dan Intake Sungguminasa,'' paparnya.
Ia turut mengungkapkan, pengerjaan konstruksi Bendungan Jenelata dilakukan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dengan KSO CAMC Engineering Co., Ltd dari China dengan nilai kontrak pembangunan sebesar Rp 4,1 triliun.
Baca Juga
Kemenkeu Ungkap Infrastruktur Layanan Air Minum Butuh Investasi Rp 123,5 Triliun
''Pendanannya bersumber dari dana pinjaman (loan) Pemerintah China dan dana APBN,'' ungkap Suryadarma.
Konstruksinya, menurut Suryadarma, telah dilaksanakan sejak Oktober 2023 dan direncanakan rampung pada 2028 mendatang dengan progres pekerjaan saat ini galian tubuh bendungan (main dam) dan area pelimpah (spillway).
Dia juga menerangkan, Bendungan Jenelata akan memiliki daya tampung sebesar 223,6 juta m3. ''Bendungan (Jenelata) ini juga mempunyai potensi sebagai pembangkit listrik tenaga hidro sebesar 7 Megawatt (MW), serta pariwisata air dan kuliner,'' pungkas Suryadarma.

