Peretas Pusat Data Nasional Galang Donasi Lewat Monero (XMR), Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Kelompok peretas Brain Cipher menggalang donasi setelah mengumumkan bahwa mereka akan membuka akses data yang tersimpan di Pusat Data Sementara (PDNS) 2 secara cuma-cuma.
Brain Cipher diketahui menyisipkan tautan untuk menggalang donasi di pernyataan mereka terkait diberikannya kunci enkripsi data yang disimpan di PDNS 2. Tautan tersebut mengarah pada dompet mata uang kripto Monero (XMR).
Tentunya, menjadi pertanyaan mengapa Brain Cipher memilih Monero untuk menggalang donasi, alih-alih mata uang kripto lainnya yang jauh lebih populer seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).
Menurut pakar keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanjunaya, Monero dipilih lantaran sifat transaksinya yang sangat sulit untuk dilacak. Berbeda dengan mata uang kripto lainnya, khususnya Bitcoin yang transaksinya dapat dilacak dengan mudah.
Baca Juga
Kemenhub Sebut Tak Terdampak Serangan Siber ke Pusat Data Nasional
“Kenapa Monero? Karena dompet (mata uang) kripto ini sangat sulit dilacak (transaksinya). Tentunya, ini dipilih karena akan membantu mereka (Brain Cipher) untuk bisa bersembunyi dan tidak bisa terdeteksi atau anonim. Beda dengan Bitcoin yang bisa dilacak,” katanya ketika ditemui di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (2/7/2024).
Lebih lanjut, Alfons menjelaskan bahwa Monero adalah mata uang kripto yang menawarkan fitur privasi tingkat lanjut. Fitur tersebut antara lain tanda ring signatures dan alamat tersembunyi.
Alhasil, Monero menjadi pilihan menarik bagi mereka yang melakukan aktivitas ilegal atau terlarang. Termasuk pembayaran tebusan ransomware dan penggalangan dana untuk aktivitas ilegal seperti peretasan.
“Selama ini memang banyak digunakan oleh peretas untuk transaksi mereka, tujuannya ya agar tidak bisa terlacak keberadaannya,” ungkapnya.
Baca Juga
Peretas Pusat Data Nasional Kasih Gratis Kunci Enkripsi, Pemerintah Diminta Hati-Hati
Berdasarkan penelusuran Investortrust, peretas mulai memanfaatkan Monero sejak 2017 setelah mengetahui fitur privasi yang ditawarkan. Pada 2019, kelompok peretas ransomware Sodinokibi/REvil meminta uang tebusan lewat Monero untuk memastikan transaksinya tak bisa dilacak.
Kelompok DarkSide, yang dikenal dengan Ransomware-as-a-Service (RaaS) pada 2021, juga menuntut pembayaran tebusan dari Monero agar tetap tidak terdeteksi oleh penegak hukum. Pada tahun yang sama, serangan ransomware Kaseya VSA juga meminta tebusan dibayarkan menggunakan Monero.

