ICFS Pertanyakan Tata Kelola Kemanan Siber PDN
JAKARTA, investortrust.id - Menanggapi diretasnya server Pusat Data Nasional (PDN), Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja mempertanyakan tata kelola dan manajemen risiko keamanan siber yang tidak dijalankan dengan baik oleh pihak-pihak terkait.
Meski demikian, menurut Ardi, kejadian yang menimpa PDN merupakan musibah bersama bangsa. Pasalnya, negara sebesar Amerika Serikat (AS) pun masih mendapatkan ancaman siber.
Baca Juga
Pusat Data Sementara Kena Serangan Siber, Apa Kabar Proyek Pusat Data Nasional?
“Pertama, ini musibah, sesuatu yang di dunia ini nggak ada yang siap. Indonesia tidak sendiri berhadapan dengan serangan siber. Amerika itu hampir setiap hari. Tadi Pak Wakil Dubes juga menyampaikan di Belanda pun mereka ngalamin,” ujar Ardi dalam acara Cyber Law Expert Panel di Jakarta, Rabu (26/6/2024).
Menurut Ardi Sutedja, serangan siber merupakan persoalan global yang harus ditangani bersama-sama. Karena itu, sebaiknya masyarakat tidak menyalahkan satu atau dua pihak dalam permasalahan ini. Persoalan tersebut harus dihadapi secara bersama-sama.
“Ini masalah yang sangat serius, yang harus dihadapi secara bersama-sama. Bukan hanya Kementerian Kominfo, kita kan konsumen semua. Sebagai konsumen, kita menempatkan data kita. Itu aset strategis, ya kita harus kritis, dong,” tegas dia.
Dia membeberkan, disiplin tata kelola teknologi memiliki peran yang sangat besar dalam era digitalisasi. Jangan sampai pemerintah lebih memprioritaskan pengadaan kemajuan teknologi, tetapi mengabaikan masalah risiko dan dampak ancaman siber.
Baca Juga
Terlebih lagi, kata Ardi Sutedja, hampir 95% teknologi yang dipakai negara Indonesia adalah buatan pihak ketiga. Itu sebabnya, masyarakat harus tetap kritis dalam menggunakan teknologi.
“Ini yang harus kita sadari, kita harus punya sikap kritis dalam memilah-milah teknologi, termasuk risiko-risikonya. Yang disayangkan, kita ini konsumen. Jadi, ada barang baru, kita ikut, ya. Tapi kita nggak pernah berpikir, sebetulnya teknologi juga punya risiko dan ada dampak yang kurang baik. Itu harus kita ubah, pola pikirnya,” papar dia.

