Menteri Trenggono Ingin Bereskan Kasus Perbudakan di Kapal Perikanan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkap tingginya angka kematian di atas kapal perikanan, yang diduga akibat kasus perbudakan. Ia pun menerima informasi serupa ketika melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Aru, Maluku.
Saat berkunjung ke Pelabuhan Dobo yang terletak di Kepulauan Aru, Menteri Trenggono menyebutkan bahwa setidaknya ada 10 orang yang meninggal di kapal-kapal tertentu.
"Jadi meninggal terus diturunin di situ, meninggal diturunin di situ. Bahkan kemarin waktu saya ke sana sehari setelahnya itu ada yang meninggal di situ, mengambang di situ. Kita enggak tau case-nya apa, tapi identifikasinya terjadi sesuatu," ucapnya Trenggono dalam keterangannya, Jumat (7/6/2024).
Setelah mendapati informasi tersebut, Menteri Trenggono langsung meminta Kapolda Maluku yang ikut dalam rombongan kunjungan kerja di Kepulauan Aru, untuk segera turun melakukan investigasi.
Menurut Trenggono, tindakan tegas perlu dilakukan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab, apabila terjadi perbudakan terhadap ABK di atas kapal perikanan benar-benar terjadi.
Baca Juga
Presiden Partai Buruh Sebut 'Out Sourcing' Sebagai Perbudakan Modern
Selain itu, ia juga akan berkoordinasi dengan Menteri Ketenagakerjaan karena indikasi perbudakan juga terjadi di kapal-kapal perikanan asing yang mempekerjakan ABK asal Indonesia. Seperti yang terjadi di Kapal Run Zheng O3 yang telah ditangkap oleh tim pengawas KKP di perairan Arafura beberapa waktu lalu.
Di kapal berukuran 800 GT itu ditemukan belasan ABK Indonesia yang mengaku dipaksa bekerja ekstra, dan belum mendapat gaji sepeser pun setelah dua bulan bekerja di kapal berbendara Rusia tersebut. Dari pengakuan ABK, pola rekrutmen didasari oleh janji-janji bergaji tinggi, bukan basis kompetensi.
"Kebetulan ada Pak Kapolda saya sampaikan, tolong diinvestigasi serius ini. Supaya pemilik kapal juga dicek, apa yang terjadi di dalam kapal juga mesti dicek gitu,” ungkap Menteri Trenggono.
“Supaya lebih manusiawi lah, karena di laut kan berbeda dengan di darat. Secara cepat kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan, agar perlu juga hati-hati soal rekrutmen," tambahnya.

