Menaker Sebut Kelompok Usia Muda Sumbang Angka Pengangguran Terbanyak
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah membeberkan, angka pengangguran terbanyak di Indonesia disumbang oleh kelompuk usia muda.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2023, jumlah pengangguran usia 15-24 tahun mencapai 42,62%.
“Kalau didalami dari sisi kelompok umur, tingkat pengangguran tertinggi terdapat pada kelompok usia muda. Jadi usia 15-19 tahun kontribusinya itu 25,7%, usia 20-24 tahun kontribusinya 16,85%,” ujar Ida Fauziyah, di acara Kick Off Pengusaha Mengajar & HUT Ke-72 Apindo, Rabu (31/1/2024).
Ida tidak memungkiri bahwa tingkat pengangguran terbuka Indonesia disumbangkan oleh mereka yang memiliki pendidikan menengah dan tinggi.
Baca Juga
Pemprov Bali Sebut Kondisi Pariwisata Masih dalam Pemulihan, Ini Indikatornya
SMK punya kontribusi 9,31% terhadap angka pengangguran, SMA 8,15%, pendidikan menengah 17,46%, universitas 5,18%, dan diploma sebesar 4,79%.
Maka dari itu, Ida Fauziyah mengapresiasi inisiasi yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dengan membuat program 1.000 Pengusaha Mengajar. Dengan demikian bisa tercipta kesesuaian antara kualitas sumber daya manusia (SDM) yang telah lulus pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.
“Ini salah satu cara untuk memperkecil miss and match. Ini salah satunya adalah dengan program Pengusaha Mengajar. Pengusaha yang tahu kebutuhan dia. Dia memberikan insight mulai dari gurunya, fasilitatornya, dan juga mungkin siswanya secara langsung, sehingga benar-benar terjadi link and match itu,” kata Ida Fauziyah.
Baca Juga
Optimistis Ekonomi Nasional Tumbuh 4,7-5,5%, BI Ingatkan Risiko Ini
Menurut Ida, harus benar-benar terjadi kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelatihan vokasi dengan dunia industri. Dengan demikian SDM Indonesia bisa termaksimalkan. Apalagi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, sehingga harus dimanfaatkan untuk mewujudkan generasi emas 2045.
“Jenis-jenis pekerjaan baru yang muncul harus bisa ditangkap. Kecepatan atau dinamika pasar kerja ini harus bisa ditangkap oleh pendidikan dan pelatihan vokasi,” pungkasnya.

