Pakar ini Sebut Indonesia Harus Berikan Perhatian di Industri Keamanan Siber
JAKARTA, investortrust.id – Dunia digital semakin berkembang pesat begitu pula di dunia militer. Saat ini, kondisi geopolitik global telah memanas akibat perang Ukraina vs Rusia, serta Iran vs Israel.
Pakar keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya menekankan, Indonesia harus menyadari perkembangan industri cyber security atau keamanan siber mengingat konflik peperangan tersebut.
“Indonesia harus menyadari hal ini dan memberikan fokus, perhatian dan usaha yang tepat dalam meningkatkan ketahanan siber karena ranah siber ini sifatnya global di mana konflik yang terjadi di Timur Tengah dan Amerika – China,” kata kata Alfons Tanujaya ketika dihubungi investortrust.id, Jumat (26/4/2024).
“Walaupun secara geografis jauh dari Indonesia, tapi dalam dunia digital hambatan geografis tidak berarti dan apapun yang terjadi dimanapun dibelahan dunia, dalam waktu sangat singkat akan sangat mudah berdampak ke Indonesia melalui internet,” tambah Alfons Tanujaya.
Berdasarkan data Badan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang diterima Investortrust.id, sepanjang 2023 terdapat total 347 dugaan insiden siber dengan jumlah jenis dugaan insiden tertinggi yaitu data breach. Di samping itu, hasil penelusuran pada darknet, ditemukan adanya 1.674.185 temuan data exposure yang berdampak pada 429 stakeholders di Indonesia.
Baca Juga
Ada Temuan 347 Insiden Siber, Spentera: Perbankan Diserang Terus Tiap Hari
Alfons Tanujaya juga menyampaikan, dengan keuntungan demografis dan jumlah penduduk di Indonesia sektor keamanan siber ini dapat diperkuat dengan mengasah talenta-talenta yang ada.
“Kita memiliki keuntungan jumlah penduduk yang banyak dan bonus demografi. Berbeda dengan negara lain yang lebih sulit mencari talenta, sebenarnya di Indonesia berkelimpahan,” ucap Alfons Tanujaya.
“Tapi, ketersediaan ini sifatnya masih mentah dan harus ada kesadaran dari pemerintah untuk melakukan usaha khusus seperti membina, memberikan dukungan pengembangan dan penghargaan terhadap talenta digital sehingga jangan sampai talenta yang ada kurang dihargai di Indonesia dan malah memilih pergi ke negara lain,” tutur Alfons Tanujaya.
Sebelumnya, Direktur Cyber Intelligence PT Spentera Royke Tobing menyebutkan, ada tiga faktor untuk mengantisipasi daripada ancaman siber tersebut yakni people (orang), process (proses), dan technology (teknologi). Dia menyatakan, awareness seseorang paling utama lalu diikuti sarana dan prasarana teknologinya.
“Kalau pegawainya semuanya abai atau lengah ‘selesai’ (rentan terkena data breach). Hampir semua breach di dunia, bukan hanya di Indonesia, itu terjadi karena faktor human (manusia),” kata Royke Tobing dalam media briefing Ancaman Operasi Intelijen Siber di Indonesia di The Westin Jakarta, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2024).
Baca Juga
Proyeksi Industri Keamanan Siber di Masa Depan
Alfons Tanujaya memprediksi, potensi industri keamanan siber akan meningkat secara signifikan seiring dengan perkembangan digitalisasi yang makin tinggi. Dia menyebutkan, digitalisasi akan memberikan efisiensi bagi proses yang ada baik di sektor keuangan ataupun lainnya.
“Digitalisasi akan memberikan efisiensi bagi proses yang ada, memotong banyak birokrasi yang tidak perlu. Namun karena sifatnya yang global, maka penetrasi digitalisasi terhadap layanan vital seperti layanan listrik, distribusi bahan bakar, layanan perbankan yang akan memberikan value added dan efisiensi,” ujar Alfons Tanujaya.
Alfons Tanujaya juga menggarisbawahi dampak buruk digitalisasi yang mungkin akan terjadi. “Tetapi jika berhasil diretas atau di disrupsi, maka akan menimbulkan chaos dan sangat merugikan karena layanan vital tersebut akan terganggu,” lanjut Alfons Tanujaya.
Tak sampai di situ, Spentera juga memandang perkembangan industri ini akan terus bertumbuh hingga puluhan tahun ke depan.
“Bisnis cyber security itu adalah bisnis yang akan menjadi trend terus sampai 50 tahun ke depan. Kenapa? Karena semua institusi dan sektor industri butuh cyber security sekarang. Orangnya sedikit, terus knowledge dan skill-nya susahnya minta ampun,” tandas Royke Tobing.
Royke Tobing menambahkan, selama 12 tahun berdirinya Spentera sebagai perusahaan swasta murni tanpa adanya investor eksternal, perusahaan telah menyediakan bootcamp (pelatihan khusus) setiap 3 tahun sekali untuk rekrutmen penetrasi tester.
“Dan ini membuat kami punya the highest standard, mungkin bisa dibilang di Asia Tenggara. Karena yang menerapkan hal seperti ini biasanya perusahaan-perusahaan di Dubai, Iran, negara-negara Five Eyes (Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat), dan tentunya Kiblat cyber security dunia yaitu di Tel Aviv (Israel),” pungkas Royke Tobing.
Baca Juga

