Pakar Keamanan Siber Ini Beri Saran Memanfaatkan AI Tanpa Picu Disrupsi Pekerjaan
JAKARTA, investortrust.id - Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC), Pratama Dahlian Persadha memberikan sejumlah saran terkait bagaimana pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) tanpa menimbulkan disrupsi terhadap kemampuan perusahaan menyerap tenaga kerja.
Dalam percakapan Whatsapp dengan investortrust.id, Sabtu (3/2/2024), Pratama mengungkap bahwa AI sebagai salah satu teknologi informasi memang dapat menyebabkan disrupsi di beberapa sektor pekerjaan, pada saat yang sama, teknologi ini juga dapat menciptakan pekerjaan baru, meningkatkan efisiensi, dan membuka peluang inovasi.
“Supaya pemanfaatan AI tidak menimbulkan disrupsi terhadap kemampuan perusahaan menyerap tenaga kerja maka perlu investasi dalam program pelatihan dan pengembangan keterampilan untuk meningkatkan kompetensi karyawan dalam hal keterampilan yang komplementer dengan teknologi AI,” ujar Pratama.
Baca Juga
Bagaimana Mengatasi Misinformasi dan Disinformasi di Era Digital? Ini Kata Pakar Keamanan Siber
Sedangkan dalam upaya menciptakan kolaborasi yang harmonis antara manusia dan teknologi AI, Pratama menganjurkan penerapan solusi AI yang dirancang untuk bekerja bersama dengan manusia (human-in-the-loop).
Dia juga menyebutkan, pengadopsian teknologi AI secara bertahap dan berencana, memberdayakan karyawan untuk menggunakan dan memahami teknologi AI, serta membuat rencana keamanan pekerjaan dan program peralihan karier.
Dengan evaluasi dampak sosial dan penanganan masalah ketidaksetaraan atau ketidakpastian ekonomi yang mungkin muncul sebagai akibat dari otomatisasi, Pratama berharap pemanfaatan teknologi AI dapat mendukung kemajuan tanpa mengorbankan keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Baca Juga
CISSReC Ungkap Strategi Manfaatkan Teknologi Informasi untuk Kemajuan Ekonomi dan Budaya
Dia juga mengungkapkan agar mengadopsi teknologi AI secara bertahap dan berencana untuk mengintegrasikannya ke dalam proses bisnis secara menyeluruh sehingga memberikan waktu bagi tenaga kerja untuk beradaptasi dan mengembangkan keterampilan baru.
Selanjutnya, memberdayakan karyawan untuk menggunakan dan memahami teknologi AI, membuat rencana keamanan pekerjaan dan program peralihan karier yang dapat membantu karyawan yang terpengaruh oleh otomatisasi untuk beralih ke peran yang lebih bernilai tambah atau sektor pekerjaan yang berkembang
Terakhir, melakukan evaluasi dampak sosial dan mengatasi masalah ketidaksetaraan atau ketidakpastian ekonomi yang mungkin muncul sebagai akibat dari otomatisasi.
Baca Juga
Ini Panilaian Pakar terhadap Program Digital dan TI yang Diusung Capres-Cawapres

