Prabowo Bacakan Puisi Heroik Seorang Pahlawan dalam Pidato Akbar di GBK, Siapakah Dia?
JAKARTA, investortrust.id – Mata Prabowo Subianto tampak berkaca-kaca saat menutup pidato akbarnya dengan sebuah puisi heroik dalam kampanye terakhir capres/cawapres di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Sabtu (10/2/2024) siang. Wajahnya memerah. Suaranya bergetar.
“Saya sekarang mau menutup pidato saya dengan mengutip tulisan yang ditinggalkan seorang pemuda umur 21 tahun yang gugur dalam pertempuran di Tangerang tahun ‘46. Di dalam sakunya ditemukan secarik kertas dengan tulisan sebagai berikut,” kata Prabowo, dengan suara menggelegar.
Dengan dada bergemuruh, capres nomor urut 2 itu membacakan bait demi puisi peninggalan seorang pemuda berusia 21 tahun yang disebutnya gugur sebagai kusuma bangsa dalam pertempuran melawan penjajah di Tangerang, hampir delapan dekade silam.
Baca Juga
Doa Prabowo di Kampanye Akbar GBK: Ya Allah, Beri Kekuatan untuk Terima Mandat Rakyat
"Kita tidak sendirian, rakyat beribu-ribu orang, bergantung kepada kita. Rakyat yang tak pernah kita lihat, rakyat yang mungkin tak akan pernah lihat kita. Tetapi apa yang kita lakukan akan menentukan apa yang terjadi kepada mereka. Dan, saya tambahkan, apa yang terjadi kepada mereka, kepada anak-anak mereka, dan kepada cucu-cucu mereka.”
Massa pendukung Prabowo-Gibran kontan terkesiap mendengar epos tersebut. Mereka pun bertanya-tanya, siapakah pahlawan yang disebut-sebut Prabowo gugur dalam pertempuran melawan penjajah di Tangerang?
Berdasarkan penelusuran investortrust.id, puisi yang dibacakan Prabowo adalah puisi terakhir yang ditulis Letnan Satu (Lettu) TNI Soebianto Djojohadikoesoemo, sebelum ia gugur dalam Pertempuran Lengkong. Puisi itu ditulis dalam secarik kertas lusuh, yang ditemukan dalam saku bajunya.
Selidik punya selidik, Soebianto Djojohadikoesoemo tak lain adalah paman Prabowo Subianto alias adik ayah kandung Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo.
Pertempuran Lengkong adalah pertempuran Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan pasukan Jepang di Desa Lengkong, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Pertempuran yang berlangsung sengit itu pecah pada 25 Januari 1946.
Kisah Pertempuran Lengkong
Berdasarkan catatan Wikipedia,Pertempuran Lengkong melibatkanpara tentara Resimen IV TRI di Tangerang yang mengelola Akademi Militer Tangerang.
Alkisah, sebelum senja lengser di kaki langit pada 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot memimpin puluhan taruna akademi untuk mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong. Mereka hendakmelucuti senjata serdadu Jepang. Daan Mogot didampingi sejumlah perwira, antara lain Mayor Wibowo, Lettu Soetopo, dan Lettu Soebianto Djojohadikoesoemo.
Baca Juga
Mengendarai tiga truk dan satu jip militer tua hasil rampasan perang, mereka berangkat ke Lengkong. Namun, di depan pintu gerbang markas, tentara Jepang mengadangmereka.
Dari sekian banyak TNI,hanya tiga orang yang diizinkan masuk ke markas Jepang untuk berbicaradengan pimpinan Dai Nippon. Mereka adalah Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan seorang taruna. Adapun Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo bertugas memimpin para taruna yang menungggu di luar.
Awalnya, proses pelucutan senjata para tantara Jepang berjalan lancar. Namun, tiba-tiba terdengar suara senapan menyalak, diikuti berondongan mitraliur bersahut-sahutan. Senja yang semula senyap itu pun serta-merta menjadi tragedi berdarah.
Sebagian tentara Jepang merebut kembali senjata mereka yang semula diserahkan. Tak pelak, pertempuran yang tak seimbang pun meletus. Karena kalah jumlah dan senjata, korban berjatuhan di pihak Indonesia.
Sebanyak 33 taruna dan tiga perwira gugur dalam peristiwa heroik itu. Satu taruna lainnya meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit. Perwira yang gugur adalah Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo. Peristiwa berdarah ini kemudian dikenal dengan nama Pertempuran Lengkong.

