Anies: Indonesia Harus Jadi Panglima Diplomasi Selatan-Selatan
JAKARTA, investortrust.id - Calon presiden (capres) nomor urut 01 Anies Baswedan menanggapi bahwa dalam kerja sama Selatan-Selatan, presiden Indonesia harus menjadi panglima diplomasi dengan menjangkau pemimpin Selatan-Selatan seperti yang dilakukan Ali Sastroamijoyo di masa Presiden Soekarno.
“Yang harus dilakukan adalah seperti di era Bung Karno, pada waktu itu Ali Sastroamijoyo, apa yang dilakukan adalah merangkul semua membawa apa yang menjadi agenda Selatan-Selatan,” ungkap Anies dalam Debat Kedua Calon Presiden di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (7/1/2023).
Hal ini merupakan tanggapan dari pernyataan Prabowo Subianto (Capres nomor dua) mengenai strateginya untuk membantun peta jalan yang lebih konkret untuk kerja sama antar negara. Anies menanggapi bahwa membangun Indonesia menjadi lebih baik (dalam segi ekonomi) tidak cukup membuat Indonesia menjadi contoh dan menginspirasi negara lain.
“Ketika kita membangun Indonesia dengan Baik tidak langsung menjadi contoh,” jelasnya.
Oleh sebab itu, ia mengusulkan bahwa Presiden dapat menjadi Panglima Diplomasi. Panglima Diplomasi yang dijelaskan oleh Anies adalah presiden Indonesia dapat hadir dan aktif dalam forum-forum dunia, bukan hanya sebagai penonton atau hadirin.
“Tapi kalau kita menjangkau pemimpin pemimpin Selatan-Selatan, presiden menjadi panglima diplomasi, bukan hanya hadir dalam forum menjadi salah satu penonton,” ungkapnya.
Dengan itu, Indonesia dapat kembali menjadi contoh oleh negara-negara lain dan dapat menjadi pemimpin Selatan-Selatan.
“Kita berhadapan dengan climate crisis yang biayanya tinggi sekali dan kita bicara dengan negara di Utara bagaimana membiayai climate crisis sebagai satu kesatuan. Indonesia jadi pemimpin Selatan-Selatan,” paparnya.

