Guru Besar IPB Bicara soal Konsep Nawacita dan Revolusi Mental
JAKARTA, investortrust.id - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Didin S. Damanhuri menilai gagasan Nawacita dan Revolusi Mental yang digagas Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum berhasil direalisasikan.
“Pak Jokowi yang awalnya Nawacita, membangun dari pinggiran, dan Revolusi Mental itu nggak jalan sama sekali. Apalagi yang namanya Poros Maritim Dunia, nggak jalan,” ucap Didin saat peluncuran buku yang digelar Paramadina Institute of Ethics and Civilization, di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (12/02/2024).
Didin mengatakan salah satu program Jokowi yang gagal yaitu Dana Desa. Dia mengatakan Dana Desa yang dikucurkan dari uang negara sebesar Rp 70 triliun tidak memberi dampak signifikan dan tidak meningkatkan kapabilitas masyarakat desa.
Baca Juga
Optimistis Tren Pertumbuhan Ekonomi Berlanjut, Peneliti Indef Ini Beberkan Tiga Alasan
“Apakah desa berhasil mendomestifikasi desa, uang memutar di desa? Berdasarkan evaluasi, uang itu memutar di kota-kota besar,” kata dia.
Didin mengatakan akibat kegagalan dalam menciptakan hak dasar dalam visi itu, negara akhirnya mengobarkan demokrasi. “Jadi bukan hanya pembangunan infrastruktur yang hanya merupakan untuk menaikkan indeks logistik, tapi untuk apa? Apa hubungannya dengan pembangunan manusia?” ucap dia.
Didin menyebut dampak dari demokrasi yang dikorbankan yaitu munculnya buzzer dan influencer (pemengaruh) yang dibiayai pemerintah. Dia menyebutnya munculnya dua kelompok itu sebagai bagian untuk membunuh orang-orang kritis.
“Jadi kritik lima tahun terakhir ini bukan lagi kritik atas platform pembangunan, tapi pembunuhan kebebasan dan demokrasi,” kata dia.
Baca Juga
Dengan pendekatan semacam itu, kata Didin, negara mengakibatkan terhambatnya kapasitas pribadi dalam diri masyarakat Indonesia. Bahkan di dunia akademik, kampus dibuat mati karena paksaan untuk mengurusi administrasi alih-alih gagasan yang memajukan masyarakat.
“Jadi ketika kemarin bersuara, itulah anomali. Saya saksikan itu suara spontanitas yang selama ini dibunuh kampus itu, kebebasan itu, demokrasi itu,” ujar dia.

