Survei LSI Denny JA: Prabowo-Gibran Unggul 18% dari Ganjar-Mahfud dan Anies-Cak Imin
JAKARTA, investortrust.id - Elektabilitas capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengungguli dua paslon lainnya dengan selisih 18%. Hal itu berdasarkan survei yang dilakukan LSI Denny JA.
Dari survei LSI Denny JA yang digelar pada 20 November hingga 3 Desember 2023, elektabilitas Prabowo-Gibran mencapai 42,9%. Sementara, capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD meraih 24,9% dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mendapat 24%.
“Jika kita lihat selisih yang ada, 42,9% dengan 24,9% sudah leading selisihnya di angka 18%, bahkan dengan Anies 18,9% selisihnya. Jadi, ada elektabilitasnya yang jauh antara nomor urut 2 dengan nomor urut 3 dengan nomor urut 1. Prabowo-Gibran unggul,” jelas peneliti LSI Ardian Sopa dalam rilis survei bertajuk “Anies atau Ganjar yang Tersingkir, Prabowo di Ambang Kemenangan”, Senin (11/12/2023).
Baca Juga
Survei Poltracking: Prabowo-Gibran 45,2%, Ganjar-Mahfud 27,3%, dan Anies-Cak Imin 23,1%
Dikatakan, Prabowo-Gibran unggul di berbagai segmen masyarakat meliputi ekonomi, pendidikan, usia, agama, gender, dan etnik. Untuk segmen ekonomi, Prabowo-Gibran unggul di semua segmen pendapatan, dengan keunggulan tertinggi ada di segmen wong cilik atau pendapatan di bawah Rp 2 juta per bulan, yakni sebesar 44,5%.
Untuk segmen pendidikan, Prabowo-Gibran unggul di pendidikan bawah dan menegah, yang meliputi tamatan SD ke bawah (47,3%), tamatan SMP sederajat (43,0%), dan tamatan SMA sederajat (40,2%). Prabowo-Gibran juga unggul di semua segmen usia, dengan dukungan terbesar di usia muda atau 30 tahun ke bawah, yakni 51,9%. Selanjutnya untuk segmen gender, Prabowo-Gibran unggul di laki-laki dan perempuan, dengan keunggulan tertinggi ada di perempuan, sebanyak 45,1%.
Sementara itu, untuk segmen agama, Prabowo-Gibran unggul di pemilih Islam dengan perolehan suara mencapai 43,3%. Untuk segmen etnik, Prabowo-Gibran unggul di lima suku, yaitu suku Sunda (50,8%), Batak (44,8%), Madura (50,8%), Melayu (56,7%), dan lainnya (47,7%).
Melihat dari hasil survei ini, Ardian mengatakan, elektabilitas Ganjar-Mahfud mengalami tren menurun, sementara elektabilitas Anies-Cak Imin cenderung naik. Pada September 2023, elektabilitas Ganjar-Mahfud mencapai 36,9%. Elektabilitas Ganjar-Mahfud turun menjadi 35,3% pada Oktober 2023, dan turun kembali pada November 2023 menjadi 28,6% hingga kini 24,9%.
Hal ini berbanding terbalik dengan dua pesaingnya, Prabowo-Gibran dan Anies-Cak Imin yang terus merangkak naik. Prabowo-Gibran sempat turun pada Oktober 2023 dengan meraih 36,8% dan naik menjadi 40,3% pada November 2023 dan naik lagi di Desember menjadi 42,9%. Demikian pula halnya dengan elektabilitas Anies-Cak Imin yang terus naik dari September (15%), Oktober (17,2%), November (20,3%), dan Desember (24%).
Ardian menjelaskan elektabilitas Ganjar-Mahfud terus turun karena dinilai kerap melakukan blunder. Menurutnya, jika blunder itu tidak segera ditanggulangi bukan tidak mungkin Ganjar-Mahfud akan disalip Anies-Cak Imin.
"Jika blunder ini tidak ditanggulangi atau ada perubahan strategi, bukan tidak memungkinkan ada risiko bisa gugur untuk masuk ke putaran kedua," jelas Ardian.
Baca Juga
Survei Litbang Kompas: Prabowo-Gibran 39,3%, Anies-Cak Imin Salip Ganjar-Mahfud
Ardian memaparkan sejumlah blunder tersebut. Pertama, saat Ganjar menolak Piala Dunia U-20. Pada Maret 2023, elektabilitas Ganjar di angka 36,2%, tetapi elektabilitasnya turun menjadi 32,4% pada April 2023.
Kedua, ketika kubu Ganjar-Mahfud mengkritik keras Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan isu dinasti hingga neo Orde Baru. Elektabilitas Ganjar-Mahfud pada Oktober 35,3% kemudian turun menjadi 28,6%, dan kini di angka 24,9%.
"Jadi dalam waktu yang tidak relatif lama, ada penurunan 9,6%. Jadi, memang blunder-blunder yang dilakukan itu juga kasus nyata, terhadap penurunan elektabilitas perorangan ataupun pasangan," lanjutnya.
Survei ini dilakukan LSI Denny JA pada 20 November sampai dengan 3 Desember 2023 dengan jumlah responden sebanyak 1.200. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuisioner. Margin of error survei kurang lebih 2,9%.

