Semua Paslon Capres -Cawapres Masih Fokus ke Kuantitas Faskes dan SDM
JAKARTA, Investortrust.id - Ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pilpres 2024 dinilai belum memiliki visi untuk menuju sistem kesehatan yang berpusat pada masyarakat (people centred). Program ketiga paslon masih fokus pada pengejaran kuantitas fasilitas kesehatan maupun jumlah sumber daya manusia kesehatan (SDMK), dibandingkan peningkatan kualitas layanan yang diberikan.
Hal ini disampaikan oleh Founder dan Chief Executive Officer CISDI, Diah Satyani Saminarsih dalam kesempatan Konferensi Pers: Hal-hal Seputar Kesehatan yang Belum Tuntas Dibahas di Debat Capres yang digelar secara daring, Senin, (5/2/2024).
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) merupakan non governmental organization yang bertujuan membantu masyarakat merasa aman dan sejahtera dalam paradigma kesehatan.
Baca Juga
Tiga Paslon Presiden Tak Cukup Bahas isu Kesehatan Remaja dan Reproduksi
Namun demikian disampaikan Diah dalam kajian “Prioritas Pembangunan Kesehatan dalam Visi Misi Calon Pemimpin Republik Indonesia 2024-2029”, ketiga paslon diakuinya sudah memiliki komitmen terhadap keterjangkauan akses layanan kesehatan bagi kelompok rentan, walaupun dengan pendekatan yang berbeda.
“Contohnya paslon Ganjar-Mahfud yang akan menjangkau melalui puskesmas keliling dan paslon Anies-Muhaimin melalui layanan kesehatan non-diskriminatif. Namun demikian, kedua paslon tersebut belum berbicara mengenai kualitas layanan dan definisi kelompok rentan masih terbatas pada klasifikasi usia dan jenis kelamin,” kata Diah
Dalam kesimpulan strategis soal visi misi ketiga paslon, disampaikan pula bahwa ketiga paslon telah memaparkan program terkait isu penanggulangan penyakit tidak menular (PTM). Hanya saja, visi ketiganya masih terfokus pada topik-topik tertentu dengan pendekatan cenderung edukatif dan berbasis penyakit, bukan dalam prinsip pandang sistem kesehatan.
Penanggulangan PTM ketiga paslon lebih difokuskan secara eksplisit pada layanan kesehatan jiwa, dan beberapa layanan untuk lansia. Sementara dalam lingkup PTM, beban penyakit terbesar untuk negara terutama berhubungan dengan pembiayaan layanan kesehatan melalui JKN adalah pada penyakit kardiovaskular, diabetes dan ginjal.
“Program untuk mencegah faktor risiko penyebab PTM baru dicanangkan paslon Anies-Muhaimin terkait regulasi pelabelan makanan/minuman tinggi gula, garam, lemak dan pengendalian produk makanan yang membahayakan kesehatan anak. Namun, ketiga paslon tidak menuliskan visi dan misinya terkait penguatan regulasi produk tembakau dan faktor risiko lainnya, meskipun konsumsi produk tembakau merupakan salah satu faktor utama tingginya angka penyakit dan kematian akibat PTM di Indonesia,” tutur Diah.
Baca Juga
CISDI: Isu Stunting, SDM Kesehatan, dan Kelompok Rentan tak Dibahas Tuntas di Debat Capres
Masih menurut Diah, paslon Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud memiliki lebih banyak fokus untuk penanganan penyakit menular dibandingkan Prabowo-Gibran. Sayangnya ketiganya belum secara komprehensif membahas bagaimana mempersiapkan Indonesia menghadapi ancaman pandemi/kejadian luar biasa penyakit menular.
“Sayangnya pemahaman terkait ketahanan kesehatan dan ancaman penyakit baru serta kembali terjadinya penyakit menular atau emerging and re-emerging diseases sebagai dampak pandemi juga langkah apa saja yang perlu diambil agar sistem kesehatan bisa resilien/tahan menghadapi goncangan seperti pandemi COVID-19 masih belum terlihat dari ketiga dokumen visi misi,” imbuhnya.
Berikutnya, topik investasi sistem kesehatan disebutkan oleh ketiga paslon namun terfokus pada perbaikan jaminan kesehatan nasional (JKN) di bawah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ketiga paslon, lanjut Diah, belum secara konkrit membahas isu pembenahan struktural dan tata kelola BPJS kesehatan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pembelanjaan dan utilisasi JKN hingga menyebabkan defisit.
Selain itu, ketiga dokumen visi misi juga belum mengeksplorasi soal pembiayaan kesehatan alternatif (alternative financing).

