Kominfo Sebut Jurnalisme di Persimpangan Jalan dengan Hadirnya AI
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebut, saat ini jurnalisme berada di persimpangan jalan dengan makin berkembangnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Hal ini karena kemajuan teknologi tersebut bisa menyingkirkan manusia, termasuk dalam dunia jurnalistik.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo), Nezar Patria tidak memungkiri kehadiran AI sangat membantu dan meningkatkan produktifitas serta kualitas penulisan berita. Namun, di sisi lain AI juga bisa menjadi momok yang mengguncang jurnalisme.
“Hampir semua industri media besar di luar negeri seperi Fox, Washington Post, New York Times menggunakan AI. New Tork Times bahkan sudah menciptakan satu dashboard content media system (CMS) mereka yang bisa melakukan editing dengan prediksi judul-judul yang bisa mendulang traffic yang baik,” ungkap Nezar Patria dalam acara Hari Pers Nasional 2024, Senin (19/2/2024).
Baca Juga
Menkominfo: Pers sebagai Penjaga Pilar Demokrasi Perlu Terus Kita Dukung
Menurutnya, eksplorasi pemanfaatan AI terus berkembang dan menguat, terutama dalam proses produksi, distribusi, dan pengumpulan berita atau news gathering. Namun, Nezar mengingatkan, AI juga memiliki risiko yang besar terhadap bisnis. Sejumlah negara di dunia yang berada di bawah PBB pun membuat panduan etika penggunaan AI.
“AI harus diatur secara etis karena ada sisi-sisi risiko dari penggunaan teknologi ini bagi umat manusia. Disrupsi AI terhadap bisnis luar biasa. Sejumlah lapangan pekerja dan profesi mungkin akan hilang akibat penggunaan AI,” kata Nezar Patria yang merupakan mantan pemimpin redaksi The Jakarta Post.
Mengenai hubungan AI dengan jurnalisme sendiri, Nezar menyampaikan ada beberapa hal yang sangat substansial dan mendasar. Salah satunya, faktor manusia di dalam membuat keputusan-keputusan apa yang boleh dan tidak boleh dipublikasikan.
“Sisi etis ini mungkin akan menjadi tantangan, tetapi hari ini AI sedang merespons itu juga, bagaimana membuat satu berita atau publikasi informasi yang juga etis. Jadi AI coba membaca intuisi manusia terhadap fakta-fakta yang akan diberi kata,” jelasnya.
Baca Juga
Kemenkominfo Dorong Perpres tentang AI Terbit Sebelum Hari Pers Nasional 2024
Nezar mengaku tidak akan terkejut jika nantinya di masa depan semua pekerjaan jurnalistik, dari mulai produksi sampai dengan distribusi berita dikerjakan oleh robot.
“Pertama, mendeteksi untuk pengumpulan berita, yang melakukan bukan lagi reporter, tetapi mesin pencari. Sumber-sumber informasi yang ada di internet semuanya well connected. Lalu soal penulisan, dengan yang namanya generative AI, itu sudah bisa dilakukan,” ujar Nezar.
Bahkan untuk pendistribusian berita, disebut Nezar bisa dilakukan dengan algoritma yang ada di platform media sosial.

